4 Motif Politik Jokowi Ingin Prabowo-Gibran Dua Periode

Intime – Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, mengungkap empat alasan yang dinilai menjadi dasar Joko Widodo atau Jokowi sejak awal memasangkan Prabowo Subianto dengan Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode kepemimpinan.

Menurut Erizal, langkah tersebut sudah terlihat sejak awal masa pemerintahan Prabowo dan dinilai sebagai strategi politik jangka panjang Jokowi.

Pertama, Jokowi disebut ingin memastikan Prabowo tetap berada dalam lingkar pengaruh politiknya. Dengan memasangkan Prabowo dengan Gibran sejak awal, Jokowi dinilai dapat menjaga kedekatan politik sekaligus mempertahankan pengaruh terhadap arah kekuasaan.

Kedua, Jokowi dinilai ingin menegaskan peran besarnya dalam kemenangan Prabowo. Erizal mengatakan Jokowi ingin memastikan Prabowo tidak melupakan bahwa dirinya memiliki kontribusi penting dalam keberhasilan politik tersebut.

“Pilihan rakyat menjadi faktor kedua, bukan pertama. Jokowi dianggap sebagai faktor utama kemenangan,” kata Erizal.

Ketiga, pemasangan Prabowo-Gibran sejak awal dinilai sebagai langkah antisipatif. Jika Prabowo tidak lagi memilih Gibran sebagai calon wakil presiden pada periode berikutnya, Jokowi berpotensi mengambil posisi sebagai pihak yang dirugikan secara politik.

Posisi tersebut dinilai dapat memberi keuntungan politik bagi Jokowi, termasuk memperkuat dukungan terhadap Gibran maupun Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Keempat, bahkan jika Prabowo tidak kembali menggandeng Gibran dan Jokowi memilih tidak mendorong pencalonan putranya, Jokowi tetap diuntungkan dari sisi citra politik. Ia dinilai dapat tampil sebagai sosok yang legowo dan mengutamakan kebersamaan.

Erizal menilai seluruh skenario tersebut sama-sama menguntungkan Jokowi dalam menjaga pengaruh politiknya, baik di masa lalu, sekarang, maupun masa depan.

Namun, pandangan terkait motif Jokowi disebut beragam. Faktor keinginan Jokowi membayang-bayangi Prabowo lebih banyak disuarakan oleh lawan politik. Sementara pendukung Jokowi menilai Prabowo tidak akan meninggalkan Gibran karena jasa Jokowi.

Sementara itu, pengamat politik Hasan Nasbi menilai Jokowi cenderung tidak akan terlibat dalam kontestasi politik jika peluang kemenangan kecil. Hasan menyebut Jokowi menerapkan strategi ala Sun Tzu, yakni memastikan kemenangan terlebih dahulu sebelum memasuki pertarungan.

Menurut Erizal, dinamika ini menunjukkan strategi politik Jokowi masih menjadi perdebatan di ruang publik, terutama terkait arah relasi kekuasaan pada periode kepemimpinan mendatang.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini