Intime – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mempertegas posisi Demokrat sebagai partai nasionalis-religius di tengah dinamika politik era modern yang dinilai makin keras dan tanpa batas.
AHY mengingatkan kadernya akan bahaya politik fitnah dan politik identitas yang berpotensi merusak persatuan bangsa.
Pernyataan itu disampaikan AHY saat memberikan arahan di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Senin (9/2), dalam acara pemberian kartu anggota kepada 48 kader baru dari komunitas Tionghoa.
AHY menyoroti fenomena post-truth politics yang menurutnya kini menjadi tantangan besar dalam demokrasi. Ia menilai kebohongan, fitnah, dan pembunuhan karakter kerap dijadikan senjata politik.
“Ini era post-truth politics. Kebohongan, politik fitnah, politik yang pada akhirnya memecah belah sesama anak bangsa. Pembunuhan karakter, habis kita dalam sesaat,” kata AHY.
Ia mengingatkan reputasi politik yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam waktu singkat akibat serangan lawan politik. Karena itu, AHY meminta seluruh kader Demokrat untuk terus waspada dan melakukan refleksi.
“Reputasi yang kita bangun puluhan tahun bisa dihabisi oleh lawan politik. Kejam politik itu,” ujarnya.
AHY juga menyinggung maraknya politik identitas yang muncul akibat carut-marutnya informasi di ruang publik.
Menurutnya, eksploitasi identitas merupakan ancaman serius bagi Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya.
“Akibat carut-marut informasi, muncullah politik identitas, politik yang mengeksploitasi perbedaan di antara kita,” ujar AHY.
Ia menegaskan Demokrat menolak keras penggunaan identitas sebagai alat politik.
“Demokrat selalu menolak. Jangan gunakan identitas untuk memecah belah bangsa sendiri,” tegas AHY.

