Intime – Pengamat ekonomi Andrinof Chaniago menyoroti satu tahun lebih kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai pemerintah seharusnya menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang realistis dan tidak terlalu ambisius.
“Gak perlu berambisi untuk mengejar pertumbuhan 8 persen. Karena itu gak mungkin,” kata Andrinof di Jakarta, Kamis (12/2).
Menurut Andrinof, pemerintah perlu membawa agenda pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai secara rasional. Ia mengkritik narasi yang terus menggaungkan target pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa didukung kondisi riil.
“Supaya kita gak terus menerus dari hari ke hari, dari minggu ke minggu disuguhi jargon bahwa kita akan kejar pertumbuhan ekonomi 8 persen. Lalu pihak-pihak yang ingin bapak senang mencari pembenaran-pembenaran. Faktanya, sampai kemarin setelah keluar data dari BPS, tetap saja pertumbuhan ekonomi itu cuma 5,1 persen,” ujarnya.
Ia menilai secara logis maupun empiris Indonesia sulit mencapai pertumbuhan rata-rata 7 persen dalam satu dekade ke depan. Karena itu, pemerintah sebaiknya fokus pada upaya optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi setinggi mungkin sesuai kapasitas yang ada.
“Maka yang diperlukan adalah bagaimana mewujudkan pertumbuhan yang tinggi secara optimal. Tidak perlu mengejar target ambisius yang kemudian ditutupi dengan retorika. Ambil saja angka realistis yang terbukti mampu dicapai,” katanya.
Andrinof menjelaskan salah satu persoalan utama yang dihadapi Indonesia adalah keterbatasan anggaran negara. Ia menyebut anggaran sekitar Rp3.700 triliun harus dialokasikan untuk pembayaran utang, belanja rutin, serta program prioritas pemerintah.
Selain itu, penetapan target pembangunan ekonomi seharusnya diawali dialog intelektual dengan para ahli dan pemikir, bukan semata berdasarkan keinginan.
Ia mencontohkan kebijakan ekonomi China di bawah Deng Xiaoping pada 1982 yang menetapkan target pertumbuhan 7 persen setelah melalui proses kajian mendalam dan pendekatan teknokratis.
Menurutnya, China mampu mencapai pertumbuhan tinggi melalui pembangunan sumber daya manusia, reformasi sektor pertanian, desentralisasi pelayanan publik, serta penegakan hukum yang tegas terhadap korupsi.
Andrinof menilai jika Indonesia ingin meniru keberhasilan tersebut, pemimpin harus memiliki visi jelas yang disertai perhitungan rasional dalam menetapkan tujuan dan strategi pembangunan.
“Visi yang jelas itu harus punya perhitungan yang masuk akal dalam menentukan sasaran dan cara mencapainya, termasuk melalui penguatan SDM dan kelembagaan,” pungkasnya.

