Intime – Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, menyebut ada dua skenario yang perlu dipertimbangkan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan.
Skenario pertama, menu MBG tetap seperti biasa, namun waktu pembagiannya digeser ke sore hari agar jarak dengan waktu berbuka tidak terlalu jauh.
“Kalau pakai skema biasa dibagi waktu pagi dan siang, makanannya bisa basi, sehingga bisa menimbulkan keracunan,” kata Yahya, Kamis (22/1).
Skenario kedua, makanan yang disajikan berbentuk kering, seperti roti, telur rebus, susu, dan buah-buahan tahan lama seperti pisang, anggur, dan salak. Dengan cara ini, makanan tetap aman dikonsumsi saat berbuka meski disiapkan sejak pagi.
Yahya menegaskan bahwa aspek keamanan pangan dan kandungan gizi harus menjadi perhatian utama dalam penyaluran MBG.
Ia menyoroti efektivitas distribusi, mengingat rumah siswa tersebar luas sehingga pengantaran langsung ke rumah akan memberatkan biaya transportasi bagi sekolah penerima program.
Sebelumnya, Kepala BGN, Dadan Hindayana, memastikan skema MBG saat Ramadan mengikuti pola tahun sebelumnya. Untuk daerah yang mayoritas Muslim, makanan akan dibagikan pada jam sekolah namun tahan lama hingga dikonsumsi saat berbuka.
“Makanan tahan 12 jam, dari mulai disiapkan sampai dikonsumsi pada saat buka,” ujar Dadan setelah rapat dengan Komisi IX DPR, Selasa (20/1).
Dengan dua skenario ini, BGN diharapkan mampu menyalurkan MBG secara efektif, aman, dan tetap bergizi selama Ramadan.
Kebijakan ini bertujuan memastikan seluruh siswa menerima manfaat program tanpa risiko kesehatan, sekaligus menjaga keberlanjutan program yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir.

