Intime – Sekelompok akademisi dan aktivis mendeklarasikan Barisan Oposisi Indonesia (BOI) jelang bulan puasa 2026. Deklarasi digelar di Jakarta pada Jumat (13/2) sebagai wadah kaum intelektual dan pegiat demokrasi yang ingin bersikap kritis terhadap jalannya pemerintahan.
Sejumlah tokoh hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Guru Besar Universitas Indonesia Sulistyowati Irianto, akademisi Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun, ekonom Anthony Budiawan, hingga Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti. Sejumlah akademisi lain juga mengikuti kegiatan secara daring.
Dalam pertemuan itu, para peserta menyoroti kondisi Indonesia yang dinilai menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari kemunduran demokrasi, maraknya korupsi, pelanggaran HAM, hingga krisis ekonomi dan lingkungan.
Ubedilah mengatakan praktik demokrasi dinilai semakin melemah, sementara penegakan hukum dan perlindungan terhadap kebebasan sipil dinilai belum optimal. Ia juga menyinggung meningkatnya ketimpangan ekonomi dan dominasi kekayaan oleh kelompok tertentu.
“Dalam situasi tersebut, kekuatan oposisi dari kalangan akademisi dan pegiat demokrasi harus bersatu, bersuara kritis, dan bergerak secara terorganisir untuk menyelamatkan republik,” ujar Ubed dalam keterangannya, Senin (16/2).
Menurutnya, partai politik oposisi dinilai belum menjalankan fungsi kontrol secara maksimal, sehingga peran masyarakat sipil menjadi penting dalam menjaga kehidupan demokrasi.
Ia menjelaskan, BOI terbuka bagi semua kalangan yang memiliki kegelisahan terhadap kondisi bangsa serta ingin berkontribusi melalui pemikiran kritis dan gerakan progresif.
Saat ditanya mengenai sosok pemimpin organisasi tersebut, Ubedilah belum memberikan jawaban pasti. Ia hanya menyebut bahwa pimpinan BOI akan diumumkan kepada publik dalam waktu mendatang.
BOI disebut akan menjadi ruang kolaborasi bagi kelompok kritis untuk mengawal arah kebijakan publik serta memperkuat praktik demokrasi di Indonesia.

