Core Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 Capai 5,5 Persen

Intime – Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I-2026 berpotensi mencapai 5,5 persen. Proyeksi tersebut didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga serta besarnya belanja pemerintah menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Pengamat ekonomi Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan agresivitas pemerintah dalam menggelontorkan anggaran belanja hingga Rp 800 triliun pada triwulan pertama menjadi mesin utama penggerak ekonomi. Belanja pemerintah tersebut mencakup berbagai program stimulus untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurut Faisal, sejumlah kebijakan telah disiapkan pemerintah, mulai dari pemberian diskon tarif transportasi dan jalan tol hingga percepatan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur sipil negara. Kebijakan tersebut diyakini dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan memperkuat konsumsi domestik.

“Kan ada THR, pemerintah juga menggelontorkan belanjanya sampai Rp 800 triliun, yang salah satunya adalah stimulus. Besar kemungkinan bisa jadi sampai ke angka 5,5 persen,” ujar Faisal dalam keterangannya, Rabu (18/2).

Faisal menjelaskan terdapat empat pilar utama penopang pertumbuhan ekonomi nasional, yakni konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan ekspor. Namun, pada awal tahun ini kontribusi dari sektor investasi dan ekspor neto diperkirakan belum optimal.

Ia memperkirakan investasi hanya tumbuh moderat, sementara surplus perdagangan berpotensi menurun dibandingkan kuartal sebelumnya. Kondisi tersebut membuat kontribusi kedua sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun diperkirakan lebih banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Kedua faktor tersebut dinilai menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun ini.

Faisal menilai capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen merupakan batas realistis yang dapat dicapai pemerintah dengan dorongan konsumsi dan belanja negara. Namun, ia menilai target pertumbuhan hingga 6 persen masih sulit dicapai dalam waktu dekat.

Menurutnya, peningkatan konsumsi masyarakat serta optimalisasi belanja pemerintah akan menjadi faktor penentu dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini