Dari Giri Kencana ke Batu Licin, Nama Waduk Cilangkap Dikembalikan ke Sejarah Lokal

Intime – Perubahan nama sebuah tempat kerap dipandang sebagai urusan administratif semata. Namun bagi masyarakat Cilangkap, Jakarta Timur, pengembalian nama Waduk Giri Kencana menjadi Waduk Batu Licin Cilangkap memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Pergantian nama ini menyentuh identitas, sejarah, serta relasi warga dengan alam yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan kampung.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi menerima aspirasi warga Cilangkap untuk mengembalikan nama Batu Licin sebagai nama waduk. Keputusan tersebut diambil setelah mendengarkan penuturan sejarah dan latar belakang budaya yang disampaikan para sesepuh serta tokoh masyarakat setempat. Pergantian nama ini dipandang sebagai pengakuan terhadap sejarah lokal dan ingatan kolektif warga.

Nama Batu Licin merujuk pada sebuah batu besar yang dahulu berada di pertemuan Kali Cilangkap, Kali Gondang, dan Kali Wangsaan. Kawasan ini pada masanya menjadi pusat aktivitas warga, mulai dari mencuci, mandi, hingga beristirahat setelah bekerja di sawah. Batu tersebut dikenal memiliki permukaan datar dan licin, sekaligus menjadi penanda ruang sosial yang diperlakukan secara khusus.

Menurut cerita lisan para sesepuh kampung, Batu Licin bukan sekadar batu alam. Dalam kepercayaan setempat, kawasan ini diyakini memiliki nilai simbolik yang menuntut sikap hormat dan kehati-hatian.

Nama Cilangkap sendiri dipercaya berasal dari istilah “buang celaka”, yang merujuk pada keyakinan bahwa wilayah tersebut menjadi tempat pembuangan kesaktian atau ilmu hitam pada masa lampau.

Seiring perubahan tata ruang kota, aliran sungai di kawasan itu dialihkan dan Batu Licin perlahan menghilang tertutup pembangunan. Kawasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi waduk dengan nama Waduk Giri Kencana. Namun bagi warga, nama itu dinilai tidak mencerminkan sejarah dan identitas lokal.

Aspirasi pengembalian nama Batu Licin disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta melalui KH Lukman Hakim Hamid, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap. Menurutnya, menghidupkan kembali nama Batu Licin berarti menjaga ingatan kolektif masyarakat.

“Nama Batu Licin adalah bagian dari sejarah kampung ini. Menghidupkan kembali nama tersebut berarti menjaga ingatan kolektif masyarakat, bukan soal kepercayaan semata,” ujar KH Lukman Hakim Hamid.

Pemprov DKI Jakarta akhirnya menetapkan nama Waduk Batu Licin Cilangkap. Kini, waduk tersebut tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengendalian air, tetapi juga menjadi simbol bahwa pembangunan kota tetap memberi ruang bagi sejarah dan kearifan lokal.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini