Intime – Wartawan senior Edy Mulyadi menilai kondisi fiskal Indonesia pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto perlu dibaca secara serius dan jujur.
Menurut dia, data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 menunjukkan sinyal peringatan yang tidak boleh ditutupi oleh narasi optimisme politik.
Edy mengingatkan bahwa dalam pengelolaan ekonomi negara berlaku satu hukum yang tidak bisa ditawar, yakni angka tidak bisa berbohong.
“Data fiskal mencatat apa yang sungguh terjadi, bukan apa yang ingin kita dengar,” ujar Edy dalam pernyataannya, Rabu (14/1).
Ia merujuk pada paparan Muhammad Said Didu terkait realisasi APBN 2025. Belanja negara tercatat sebesar Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari target Rp3.621,3 triliun.
Angka tersebut bahkan lebih tinggi 2,72 persen dibandingkan belanja 2024. Namun, agresivitas belanja itu tidak diimbangi kinerja penerimaan negara.
Total penerimaan negara 2025 hanya mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target. Penerimaan perpajakan bahkan lebih rendah, yakni Rp2.217,9 triliun atau hanya 89 persen dari target. Capaian ini disebut sebagai yang terburuk dalam enam tahun terakhir.
Akibatnya, defisit anggaran melebar menjadi Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB), melampaui target awal Rp662 triliun. Meski belum separah masa pandemi, Edy menilai defisit tersebut menjadi yang terburuk pada era pasca-COVID-19
Edy juga menyoroti penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang secara persentase melampaui target, tetapi secara tren justru menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Hal ini dinilainya sebagai indikasi mulai mengeringnya sumber penerimaan nonpajak.
Menurut Edy, pemerintahan Prabowo tidak bisa semata berdalih sebagai pewaris masalah dari pemerintahan sebelumnya.
“Saat ini Presiden sudah memegang kendali penuh. Mandat rakyat menuntut keputusan nyata, bukan sekadar pidato,” kata dia.
Ia menegaskan, jika data fiskal terus memburuk, pemerintah harus berani melakukan koreksi kebijakan, termasuk merombak kabinet.
“Sejarah tidak mencatat pidato, tetapi keberanian mengambil keputusan di saat genting,” ujar Edy.

