Edy Mulyadi: Pernyataan Eggi Sudjana soal Jokowi Kontradiktif

Intime – Wartawan senior Edy Mulyadi mengkritik pernyataan Eggi Sudjana terkait pertemuannya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang belakangan menjadi perhatian publik.

Edy menilai terdapat kontradiksi dalam penjelasan yang disampaikan Eggi dan pihak kuasa hukumnya, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kejujuran di hadapan masyarakat.

Edy menyoroti perubahan narasi soal gestur dalam pertemuan tersebut. Menurut dia, Eggi sebelumnya menegaskan tidak ada pelukan dalam pertemuannya dengan Jokowi.

Namun, pernyataan itu kemudian berbeda dengan keterangan pengacara Eggi yang menyebut adanya pelukan dan suasana kehangatan.

“Di situ masalahnya bukan lagi soal ada atau tidak ada pelukan, tetapi soal konsistensi dan kejujuran kepada publik,” kata Edy dalam keterangannya, Rabu (21/1).

Ia menilai, klarifikasi yang muncul justru tidak meluruskan persoalan, melainkan menimbulkan kebingungan baru. Dalam pandangannya, perubahan pernyataan berulang kali berisiko meruntuhkan kredibilitas figur publik yang selama ini dikenal kritis terhadap kekuasaan.

Edy juga mengkritik pernyataan Eggi yang menyebut akhlak Presiden Joko Widodo sebagai baik. Menurut dia, penilaian akhlak dalam politik tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan praktik kekuasaan yang dijalankan.

“Akhlak politik tidak diukur dari keramahan personal atau kehangatan pertemuan, tetapi dari kepatuhan pada konstitusi, kejujuran memegang amanat, dan keberpihakan pada keadilan,” ujar Edy.

Ia menyinggung sejumlah kontroversi yang muncul selama pemerintahan Jokowi, seperti pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi, kriminalisasi kritik, konflik agraria, hingga persoalan etika ketatanegaraan.

Menurut Edy, konteks tersebut penting dalam menilai pernyataan moral yang disampaikan tokoh publik.

Kritik Edy menjadi tajam karena latar belakang Eggi Sudjana yang selama ini dikenal sebagai sosok oposisi dan pernah dipenjara akibat sikap politiknya. Karena itu, perubahan sikap dinilai wajar jika memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.

Edy menegaskan, dalam politik, modal utama seorang pejuang nilai adalah kejujuran dan konsistensi.

“Sekali itu dikorbankan, kepercayaan publik akan sulit dipulihkan,” ujarnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini