Intime – Kehadiran Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai tidak akan signifikan mendongkrak suara partai tersebut pada Pemilu 2029.
Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah di Jakarta, Rabu (4/2).
Dedi menilai, ketika Jokowi masih menjabat sebagai presiden, dukungannya terhadap PSI juga tidak mampu mendorong partai tersebut melewati ambang batas parlemen.
“Kita tahu, pada Pemilu 2024, Presiden Jokowi sudah terlibat secara langsung, begitu pula keluarganya, terutama Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution. Mereka sudah mulai terlibat dalam proses promosi PSI,” ujar Dedi.
Ia menambahkan, berbagai survei yang dilakukan IPO dari Desember 2023 hingga 2024 menunjukkan elektabilitas PSI tetap rendah meski dukungan Jokowi dan keluarga tersiar luas.
Alat promosi partai yang tersebar hampir di semua jalan, termasuk kabar keterlibatan polisi dalam penyebaran alat peraga kampanye, disebut sudah masif namun belum memberikan dampak signifikan.
Dalam analisis Dedi, kemenangan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024 juga menunjukkan pengaruh Jokowi relatif kecil.
“Yang memenangkan Prabowo dengan Gibran bukan faktor Jokowi atau Gibran. Melainkan faktor Prabowo sendiri sekaligus kekuatan koalisi,” ujarnya.
Dedi menekankan, dukungan seorang tokoh populer sekalipun tidak otomatis meningkatkan elektabilitas partai.
Faktor internal partai, strategi kampanye, dan citra publik tetap menjadi penentu utama keberhasilan dalam pemilu mendatang.

