Filosofi Trisula, LAM Betawi, Gubernur, dan DPRD Jakarta

Oleh: Usni, Kaprodi Ilmu Politik FISIP UMJ

Tanggung jawab utama pemimpin negara dan daerah adalah “penjaga konstitusi”. Dalam ketidaksempurnaan konstitusi, pemimpin dapat menutupinya dengan kewibawaan moral.

LAM Betawi dalam konteks trisula berperan menjaga kewibawaan moral Pemerintah Provinsi, Gubernur, Wakil Gubernur, DPRD, dan masyarakat Jakarta melalui nilai-nilai adat kebetawian. Hal ini diwujudkan dalam program dan regulasi daerah yang terintegrasi dengan Kota Jakarta.

Prinsip trisula mewujudkan sinergi antara LAM Betawi sebagai penjaga moral dengan nilai-nilai adat dan budaya, serta Pemerintah Provinsi dan DPRD sebagai pelaksana konstitusi, sehingga tercipta keselarasan dengan kearifan lokal Jakarta.

Pemerintah Daerah menjalankan program menjadikan Jakarta kota global, DPRD Jakarta merancang regulasi pendukung, dan LAM Betawi menjaga, melindungi, serta mengoptimalkan keragaman budaya Jakarta sebagai bagian dari menjaga kewibawaan kota yang bernilai dan berbudaya.

Oleh karena itu, kebijakan otoritatif dari LAM Betawi sangat dibutuhkan untuk menjaga pembangunan Jakarta yang selaras dengan nilai-nilai budaya Betawi, melestarikan budaya di tengah globalisasi, dan mengikat masyarakat Betawi.

5. Filosofi Kepemimpinan Berbudaya LAM betawi

Jakarta, sebagai kota dengan karakteristik unik, menjadi pusat ekonomi, pertemuan budaya, pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan interaksi internasional. Namun, di tengah dinamika kota global, kearifan lokal Betawi tetap terjaga, menjadi identitas yang membedakan Jakarta dengan kota lainnya di Indonesia.

Di samping itu, regulasi pemajuan kebudayaan mensyaratkan empat aspek, yaitu perlindungan, pemanfaatan, pengembangan, dan pembinaan. Regulasi lainnya menekankan pentingnya pelibatan badan usaha, lembaga pendidikan, lembaga adat, dan masyarakat sebagai satu ekosistem untuk melaksanakan perlindungan, pemanfaatan, pengembangan, dan pembinaan kebudayaan secara optimal di Jakarta.

Aspek kota, kependudukan, dan regulasi menuntut kepemimpinan ideal untuk menjaga dan melestarikan budaya Betawi di Jakarta. LAM Betawi dapat menjadi institusi yang memainkan peran penting dengan melibatkan tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pelaku budaya, akademisi, dan ulama Betawi untuk pengembangan budaya dan advokasi kebijakan yang mendukung keberlanjutan budaya Betawi, sebagai satu kesatuan dalam Kepemimpinan Budaya LAM Betawi.

Dengan demikian, keterlibatan semua pihak dalam Kepemimpinan Budaya LAM Betawi, seperti aktivis Betawi, ulama Betawi, pelaku budaya, dan akademisi Betawi, akan membuat keberlanjutan identitas budaya Betawi di Kota Jakarta berjalan seiring dengan ilmu pengetahuan, pertimbangan religius, adaptasi budaya, dan inovasi.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini