Intime – Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan menilai sikap sejumlah partai politik, khususnya Partai Gerindra, yang tidak memasukkan nama Gibran Rakabuming Raka sebagai kandidat calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 merupakan keputusan yang berani.
Menurut Halili, pernyataan Prabowo yang menyatakan kesiapannya memimpin pemerintahan untuk periode kedua tanpa secara tegas menyebut pasangan Prabowo-Gibran dapat dibaca sebagai sinyal politik terkait posisi calon wakil presiden di masa mendatang.
“Prabowo sudah menyatakan dirinya, bukan pasangan Prabowo-Gibran, siap memimpin pemerintahan negara untuk periode kedua nanti. Ini kode keras bahwa wapresnya belum tentu Gibran,” kata Halili di Jakarta, Rabu (11/2).
Ia menjelaskan, jika melihat sejarah politik di Indonesia, terdapat pola tertentu dalam kontestasi kepresidenan. Salah satunya adalah kecenderungan pasangan presiden dan wakil presiden tidak kembali berpasangan pada periode kedua.
“Kita sebut saja Teori Periode Kedua. SBY dengan Boediono dan Jokowi dengan Ma’ruf Amin. Kecenderungan yang terjadi, di periode kedua presiden memilih calon non-politisi,” ujarnya.
Halili menyebut, dalam periode kedua masa jabatan, posisi presiden biasanya sudah memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi sehingga pemilihan calon wakil presiden tidak lagi menjadi faktor utama penentu kemenangan.
“Asumsinya, di periode kedua presiden dipasangkan dengan ‘sandal jepit’ pun jadi. Ini yang membuat Prabowo dan Gerindra sangat confident,” ucapnya.
Meski demikian, Halili menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tetap menjadi faktor penting dalam kemenangan Prabowo pada Pilpres sebelumnya. Ia menilai dukungan Jokowi memiliki pengaruh besar terhadap basis dukungan politik Prabowo.
“Tapi jangan lupa, Jokowi faktor penting bagi kepresidenan Prabowo. Signifikansi peran Jokowi dalam kemenangan Prabowo di Pilpres lalu tergambar dalam teriakan ‘Hidup Jokowi!’,” tegasnya.
Karena itu, Halili menilai pernyataan yang disampaikan Partai Gerindra dapat dibaca sebagai manuver politik untuk meningkatkan posisi tawar di hadapan Jokowi dan kelompok politiknya.
Menurut dia, dinamika politik menjelang Pilpres 2029 masih sangat terbuka dan berbagai kemungkinan masih dapat terjadi, termasuk peluang Prabowo kembali berpasangan dengan Gibran.
“Pilpres kan masih relatif jauh. Bukan tidak mungkin, pada akhirnya wapres Prabowo Gibran lagi,” pungkasnya.

