Intime – Harga emas dunia diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren kenaikan pada pekan terakhir Februari 2026. Meski begitu, pasar saat ini tengah mengalami konsolidasi setelah reli tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures, emas masih menunjukkan tren bullish jangka menengah yang didukung faktor teknikal dan fundamental global.
Analis Andy Nugraha mengatakan, secara teknikal tren emas pada timeframe H4 masih didominasi pergerakan naik. Namun, harga kini bergerak terbatas karena investor menunggu faktor pemicu baru.
“Kondisi ini menunjukkan keseimbangan sementara antara tekanan beli dan jual, karena pelaku pasar masih menunggu arah pasar yang lebih jelas,” ujarnya.
Menurut dia, fase konsolidasi biasanya terjadi setelah lonjakan harga yang kuat. Dalam situasi ini, pasar sangat dipengaruhi rilis data ekonomi Amerika Serikat, terutama terkait arah kebijakan moneter dan pergerakan dolar AS.
Jika momentum positif tetap terjaga dan harga tidak menembus level support penting, emas berpotensi melanjutkan penguatan. Dalam skenario optimistis, harga XAU/USD diperkirakan dapat menembus area resistance di kisaran 5.100.
Selain faktor teknikal, kondisi global turut menopang harga emas. Ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran perlambatan ekonomi membuat emas tetap menjadi pilihan aset safe haven bagi investor.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve juga menjadi katalis positif. Penurunan suku bunga berpotensi melemahkan dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas.
Namun, Andy mengingatkan adanya risiko penurunan jika harga menembus support di level 4.630. Jika terjadi, tekanan jual dapat meningkat dan mendorong harga turun hingga kisaran 4.415.
Dengan kondisi tersebut, investor disarankan memantau data inflasi dan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi volatilitas pasar serta arah pergerakan harga emas global.

