Haris Rusly Moti: Keikutsertaan RI di Dewan Perdamaian Gaza Tak Bertentangan dengan Konstitusi

Intime – Pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti, menanggapi kekhawatiran publik terkait keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung dalam Board of Peace (BOP) atau Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Haris menilai kekhawatiran tersebut tidak beralasan karena telah dijawab langsung oleh Presiden Prabowo.

Menurut Haris, Presiden Prabowo menegaskan Indonesia dapat keluar dari Board of Peace kapan pun jika lembaga tersebut menyimpang dari tujuan menciptakan perdamaian di Gaza dan mendukung kemerdekaan Palestina.

“Kritik soal keterlibatan Indonesia di Board of Peace sudah dijawab. Indonesia bisa keluar kapan saja jika menyimpang dari tujuan perdamaian Gaza dan memerdekakan Palestina,” kata Haris dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2).

Haris menjelaskan kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi multi-alignment yang dijalankan Presiden Prabowo sebagai adaptasi dari prinsip politik luar negeri bebas aktif. Prinsip tersebut, kata dia, diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 1999.

“Politik luar negeri Indonesia bukan netral, tapi berpihak pada nilai-nilai konstitusi,” ujar Haris.

Ia menilai strategi multi-alignment merupakan pengembangan dari prinsip non-blok yang relevan dengan kondisi geopolitik global saat ini. Berbeda dengan era Perang Dingin yang bersifat bipolar, dunia kini berada dalam situasi multipolar dengan banyak kekuatan besar.

Haris menyebut Presiden Prabowo menjalankan strategi tersebut secara konsisten dengan membangun kerja sama bersama BRICS, yang menjadi pesaing Amerika Serikat, sekaligus tetap menjalin komunikasi melalui Board of Peace bentukan AS.

“Langkah itu menunjukkan Indonesia tidak mengikatkan diri pada satu kekuatan saja,” ucapnya.

Menurut Haris, kondisi multipolar yang seharusnya menciptakan keseimbangan justru melahirkan polarisasi dan fragmentasi geopolitik. Karena itu, ia menilai strategi multi-alignment menjadi jawaban paling rasional dalam melindungi kepentingan nasional sekaligus mendukung perjuangan Palestina.

“Situasi dunia hari ini terjebak dalam persaingan negara-negara adidaya. Jawabannya adalah multi-alignment,” tandas Haris.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini