Intime – Mantan Anggota Komisi XI DPR RI Didi Irawadi Syamsuddin menyebut anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8 persen selama dua hari berturut-turut sebagai bukti negara kalah menghadapi mafia penggoreng saham.
Bursa Efek Indonesia (BEI) diketahui melakukan trading halt pada 28–29 Januari 2026 setelah IHSG terjun bebas lebih dari 8 persen. Pemerintah menyebut pelemahan pasar dipicu kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sejumlah aksi indeks saham Indonesia.
Didi menilai alasan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan. Menurutnya, masalah utama justru terletak pada praktik manipulasi saham yang sudah lama terjadi.
“Negara sibuk bicara MSCI, mafia sibuk goreng saham. Yang satu presentasi, yang lain eksekusi,” kata Didi, Kamis (29/1).
Ia menegaskan kejatuhan IHSG bukan sekadar gejolak pasar. Didi menolak anggapan bahwa situasi ini murni risiko investasi.
“Bukan pasar. Ini bandar,” ujarnya.
Didi juga mengkritik lemahnya peran regulator dalam menindak pelaku besar di balik permainan saham. Ia menyebut aparat kerap hanya menyentuh pelaku kecil, sementara aktor utama tetap bebas.
“Regulator rapi di forum, tapi ompong di lapangan. Yang kena selalu recehan, yang besar tetap nyaman. Bursa jadi kasino elite, investor ritel jadi korban,” ucapnya.
Menurut Didi, ketidaktegasan negara berpotensi membuat investor kehilangan kepercayaan dan menarik diri dari pasar modal.
“Kalau negara takut pada mafia saham, jangan heran kalau publik pergi. Kepercayaan rakyat jauh lebih mahal dari sekadar indeks,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis IHSG akan menembus level 10.000 pada akhir tahun ini.
“To the moon, jangan takut. Fondasi kita bagus,” kata Purbaya.

