Intime – Ekonom Hendrawan Supratikno menyoroti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8 persen yang terjadi belakangan ini. Ia menilai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu menghadirkan kepemimpinan strategis untuk memperkuat transparansi dan kredibilitas pasar modal.
Menurut Hendrawan, penurunan tajam IHSG tersebut tidak bisa dipandang sebagai fluktuasi biasa. Bahkan, kondisi ini turut diikuti dengan pengunduran diri Direktur Utama BEI Iman Rachman dari jabatannya.
“Dibutuhkan kepemimpinan strategis yang mampu membuat peta jalan transformasi dalam pertarungan transparansi dan kredibilitas pasar modal di masa depan,” ujar Hendrawan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (30/1).
Hendrawan menegaskan, OJK sebagai regulator dan BEI sebagai self regulatory organization harus mampu unggul dalam manajemen keterbukaan informasi serta membangun arsitektur pasar modal yang sehat dan efisien.
Menurut dia, tantangan pasar modal ke depan semakin kompleks dan menuntut tata kelola yang kuat.
“Kita harus unggul dalam pacuan manajemen keterbukaan dan arsitektur pasar yang sehat dan efisien. Otoritas yang berwenang, dalam hal ini OJK sebagai regulator dan BEI sebagai SRO,” tambahnya.
Lebih lanjut, Hendrawan menilai penurunan IHSG yang tajam menjadi sinyal adanya persoalan mendasar yang selama ini belum diterjemahkan secara konsisten ke dalam regulasi yang kredibel. Ia menegaskan bahwa transparansi merupakan salah satu pilar utama pasar modal yang sehat dan efisien.
“Salah satu pilar pasar modal yang efisien dan sehat adalah transparansi pasar,” kata Hendrawan.
Politisi PDI Perjuangan itu menambahkan, informasi merupakan bahan bakar utama dalam membangun kepercayaan pasar. Karena itu, setiap upaya yang membuat informasi menjadi tidak transparan harus dilawan secara tegas.
Hendrawan juga mengingatkan, peristiwa jatuhnya IHSG dan ancaman penurunan status BEI dari emerging market ke frontier market akan berdampak serius.
“Ini akan menjadi malapetaka yang memalukan,” pungkasnya.

