Intime – Ikan bandeng menjadi salah satu sajian khas yang tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia. Bagi masyarakat Tionghoa, bandeng bukan sekadar hidangan, melainkan simbol kemakmuran, keberuntungan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Tradisi menyajikan bandeng saat Imlek telah berlangsung turun-temurun. Kebiasaan ini berawal dari praktik masyarakat Tionghoa yang membudidayakan ikan bandeng di tambak, bahkan di pekarangan rumah. Kemudahan dalam pemeliharaan serta nilai ekonominya menjadikan bandeng sebagai komoditas penting, sekaligus bagian dari tradisi perayaan.
Dalam buku Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia karya Alwi Shahab disebutkan bahwa masyarakat Tionghoa Betawi memiliki tradisi menghidangkan ikan bandeng berukuran besar saat Imlek. Ikan tersebut dimaknai sebagai simbol kemakmuran dan keberuntungan bagi keluarga yang merayakannya.
Tradisi ini ternyata memiliki akar sejarah panjang sejak masa kolonial. Pada masa itu, ikan bandeng kerap dijadikan hadiah kepada pejabat Belanda dengan harapan hubungan bisnis berjalan lancar.
Seiring waktu, kebiasaan tersebut mengalami perubahan makna dan berkembang menjadi bagian dari tradisi kuliner dalam perayaan Imlek.
Selain sebagai simbol keberuntungan, bandeng juga kerap dibagikan kepada kerabat dan mitra usaha. Pemberian ikan bandeng berukuran besar dipandang sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya mempererat hubungan sosial dan ekonomi.
Masyarakat percaya, melalui tradisi tersebut, usaha yang dijalankan akan memperoleh kelancaran serta meningkatkan status sosial.
Hingga kini, tradisi memasak dan berbagi bandeng tetap dipertahankan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara nilai budaya, sejarah panjang, serta harapan akan kesejahteraan di masa depan.
Dalam praktiknya, ikan bandeng diolah dengan berbagai cara. Salah satu olahan yang populer di kalangan masyarakat Betawi adalah pindang bandeng.
Hidangan ini dikenal memiliki cita rasa manis, pedas, dan gurih yang berasal dari perpaduan bumbu seperti kecap manis, cabai merah, bawang merah, bawang putih, jahe, dan lengkuas. Perpaduan kuliner ini menunjukkan akulturasi budaya yang harmonis antara masyarakat Tionghoa dan Betawi.
Keberadaan bandeng di meja makan saat Imlek bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan cerminan doa dan harapan agar kehidupan di tahun yang baru senantiasa dilimpahi kemakmuran dan keberuntungan

