Intime – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai dijalankan pemerintah sejak awal 2025 dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap penguatan sektor pertanian dan agroindustri nasional.
Penilaian tersebut disampaikan Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus.
Menurut Heri, sebagai program berbasis pangan dengan anggaran mencapai puluhan triliun rupiah, MBG seharusnya mampu menjadi pengungkit bagi sektor pertanian dan agroindustri. Namun, realisasi di lapangan belum menunjukkan akselerasi yang berarti.
“Kalau bicara makan bergizi gratis, itu kan berbasis pangan. Anggarannya puluhan triliun. Seharusnya sektor pertanian dan agroindustri bisa terakselerasi, tetapi yang terlihat justru masih biasa-biasa saja,” ujar Heri dalam diskusi INDEF, Jumat (6/2).
Ia mengungkapkan, pertumbuhan sektor pertanian saat ini tercatat sebesar 5,33 persen. Angka tersebut dinilai belum mencerminkan perbaikan struktural yang kuat, mengingat pertumbuhan itu terjadi dari basis yang relatif rendah pada periode sebelumnya.
Heri menjelaskan, sektor pertanian masih menghadapi berbagai tekanan, mulai dari faktor iklim hingga gejolak harga komoditas. Kondisi tersebut membuat sektor pertanian belum cukup solid untuk berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Lebih jauh, Heri menilai kinerja sektor pertanian menjadi cerminan persoalan struktural dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,11 persen, namun belum ditopang oleh sektor-sektor produktif yang berkelanjutan.
“Pertumbuhan ini lebih banyak dibantu oleh stimulus dan faktor musiman. Risikonya, ketika dorongan tersebut berhenti, ekonomi bisa kembali melemah,” ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh ekspor dan konsumsi lembaga nonprofit, sementara konsumsi rumah tangga dan investasi masih tumbuh di bawah rata-rata nasional. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi ekonomi belum berjalan optimal.
Heri menambahkan, lemahnya akselerasi sektor pertanian dan industri turut berdampak pada terbatasnya penyerapan tenaga kerja, khususnya di sektor formal.
Tanpa perbaikan struktural dan peningkatan produktivitas, program MBG dinilai hanya akan memberikan dampak jangka pendek bagi perekonomian.

