Intime – Pengamat militer sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai terpilihnya Indonesia sebagai Deputy Commander atau Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF) di Gaza telah mengubah kalkulasi strategis di lapangan secara signifikan.
Menurut Fahmi, posisi tersebut bukan sekadar pengiriman pasukan penjaga perdamaian seperti yang selama ini dilakukan dalam berbagai misi internasional. Ia menilai penunjukan Indonesia sebagai Wakil Komandan ISF merupakan bentuk pengakuan atas diplomasi proaktif pemerintah Indonesia dalam isu keamanan global.
“Dengan berada di posisi komando taktis, kita punya kendali langsung untuk memastikan national caveats yang sudah disusun ketat oleh pemerintah benar-benar dipatuhi. Kita belajar banyak dari sejarah mandat global yang lumpuh, di mana rantai komando yang bias sering kali malah mengorbankan pasukan di lapangan,” ujar Fahmi kepada awak media di Jakarta, Sabtu (21/2).
Fahmi menjelaskan, posisi Wakil Komandan ISF dapat menjadi mekanisme pengaman bagi pasukan Indonesia agar tidak terseret kepentingan militer negara lain dalam operasi multinasional. Menurut dia, peran tersebut juga penting untuk mencegah kemungkinan meluasnya mandat misi atau mission creep yang berpotensi mengubah tujuan awal operasi.
Ia menambahkan, keterlibatan Indonesia pada level pengambil keputusan strategis juga diyakini dapat memberikan dampak psikologis bagi pihak-pihak tertentu di kawasan konflik. Kehadiran Indonesia di struktur komando, kata dia, berpotensi memengaruhi perhitungan berbagai aktor yang menginginkan instabilitas di Gaza terus berlangsung.
Lebih lanjut, Fahmi berharap posisi strategis tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk menjaga mandat awal misi yang bersifat non-kombatan.
Ia menekankan pentingnya ketegasan Indonesia dalam menahan tekanan dari koalisi tertentu yang berpotensi mengarahkan misi menuju agenda pelucutan senjata atau operasi militer yang lebih luas.
Menurut Fahmi, tantangan terbesar selanjutnya terletak pada figur jenderal yang akan ditunjuk mengisi posisi Wakil Komandan ISF. Sosok tersebut, kata dia, harus memiliki kombinasi kemampuan taktis, kecakapan diplomasi militer, serta pemahaman intelijen lintas budaya.
Ia menegaskan, kondisi wilayah urban Gaza yang penuh dinamika dan potensi provokasi tinggi menuntut kepemimpinan yang tenang, adaptif, dan mampu menjaga stabilitas operasi sesuai mandat internasional.

