Intime – Ekonom Konstitusi Defiyan Cori menilai pernyataan optimistis Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait prospek cerah perekonomian Indonesia tidak sejalan dengan realitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Defiyan, saat dilantik sebagai Menteri Keuangan, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa dalam waktu tiga bulan kondisi ekonomi Indonesia akan membaik. Pernyataan tersebut, kata dia, memberi harapan kepada publik bahwa pengelolaan fiskal akan lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
“Pernyataan ekonomi cerah itu dipahami masyarakat sebagai janji bahwa APBN tidak lagi defisit dan pertumbuhan ekonomi bisa melampaui 6 persen,” ujar Defiyan dalam keterangannya, Jumat (30/1).
Namun, Defiyan menilai kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik. Postur APBN masih menunjukkan defisit, bahkan untuk tahun anggaran 2026 dirancang defisit sebesar Rp 638,8 triliun atau 2,48 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Ia mengakui besaran defisit tersebut masih berada dalam batas ketentuan undang-undang. Meski demikian, Defiyan mempertanyakan konsistensi pernyataan Menkeu yang sebelumnya menyebut mampu menyusun APBN tanpa defisit, tetapi kemudian beralasan hal itu dapat membuat perekonomian semrawut.
“Pernyataan tersebut saling bertolak belakang dan terkesan tidak mencerminkan sikap teknokratik seorang menteri keuangan,” kata Defiyan.
Defiyan juga menyoroti peningkatan alokasi belanja pemerintah pusat dalam APBN 2026 yang mencapai Rp 3.147,70 triliun, naik Rp 142,60 triliun dibandingkan 2025. Sebaliknya, transfer ke daerah justru menyusut menjadi Rp 650 triliun dari sebelumnya Rp 919,9 triliun.
Menurut dia, pemangkasan anggaran daerah bertentangan dengan janji pemerataan pembangunan dan kesejahteraan.
“Sulit mewujudkan daerah maju dan rakyat sejahtera jika alokasi anggaran ke daerah justru dipangkas,” ujar Defiyan.

