Kasus Bunuh Diri Siswa SD di Ngada Menunjukkan Kegagalan Sistemik Negara

Intime – Pengamat politik Adhie M. Massardi menyoroti kasus bunuh diri seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebagai kegagalan negara dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap warganya.

Ia menilai tragedi ini bukan sekadar masalah psikologis atau kemiskinan keluarga, melainkan cermin kegagalan sistemik.

“Bukankah negara pada akhirnya direpresentasikan oleh manusia, yang punya hasrat dan nafsu kekuasaan tak terbatas, yang ujung-ujungnya koruptif? Quo vadis para ahli HTN Indonesia!” kata Adhie dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2).

Adhie menekankan bahwa anak bukan penyebab tragedi, melainkan indikator peradaban. Ia menyebut logika moral yang diajarkan terlalu dini—bahwa hidup hanya sah jika tidak merepotkan—menjadi akar masalah.

Ia menyoroti peran negara paternalistik dalam UUD 1945, yang menempatkan negara sebagai subjek aktif, sementara rakyat pasif. Menurut Adhie, struktur ini membiasakan negara untuk “mendidik” rakyat alih-alih menjamin martabat warga.

“Tragedi ini tidak akan berhenti dengan terapi individual atau kampanye empati. Yang dibutuhkan adalah koreksi total terhadap cara kita memahami negara dan manusia,” ujarnya.

Adhie menegaskan, negara harus direposisi agar warga hidup bermartabat tanpa rasa bersalah, dan generasi muda tidak lagi memandang hidupnya sebagai hal yang bisa dinegosiasikan. Tragedi bunuh diri anak, kata dia, adalah dakwaan moral terhadap negara.

“Seorang anak yang bunuh diri bukan hanya kehilangan nyawa. Ia meninggalkan pertanyaan peradaban yang tidak boleh dijawab dengan air mata belaka,” tutup Adhie.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini