Intime – Pengamat politik Rocky Gerung menyoroti kasus bunuh diri seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Ngada, Nusa Tenggara Timur, karena orangtuanya tidak mampu membeli buku dan pena senilai Rp 10.000.
Pernyataan ini disampaikan Rocky melalui akun Youtube pribadinya, Rocky Gerung Official, Rabu (4/2).
Rocky menyebut peristiwa tragis ini membatalkan upaya pemerintah untuk menunjukkan kebesaran bangsa, termasuk dalam forum-forum internasional. Menurutnya, tindakan seorang anak berusia 10 tahun yang memilih gantung diri karena kebutuhan dasar pendidikan tidak terpenuhi, menjadi refleksi serius terhadap tanggung jawab negara.
“Upaya kita untuk memahami seluruh gerak-gerik pemerintah dalam menggelorakan kembali kebesaran bangsa, bahkan sampai di forum-forum internasional, dibatalkan oleh peristiwa seorang anak memutuskan gantung diri karena ibunya tidak bisa menyediakan dia buku tulis,” kata Rocky.
Rocky menekankan bahwa buku tulis merupakan hak dasar setiap anak yang seharusnya disediakan oleh negara. Menurutnya, ketersediaan alat belajar bukan sekadar kebutuhan materi, tetapi juga simbol kesempatan bagi anak untuk mengembangkan diri.
“Buku tulis adalah hak dia yang harusnya disediakan oleh negara. Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat menjadi pemimpin di masa depan, menjadi berguna bagi bangsa, menjadi seseorang terdidik tanpa dia harus mengatakan bahwa dia ingin memperoleh bonus demografi,” ujar Rocky.
Kasus YBS kembali menegaskan persoalan pendidikan dan kemiskinan struktural di Indonesia. Meski negara memiliki berbagai program, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang tidak bisa mengakses kebutuhan pendidikan dasar.
Rocky menekankan perlunya perhatian serius terhadap anak-anak miskin agar tragedi serupa tidak terulang.

