Intime – Para kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Musyawarah Kubro Alim Ulama dan Sesepuh NU mengeluarkan pernyataan tegas kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Mereka mendesak agar konflik internal yang berkepanjangan segera diakhiri melalui islah. Jika tidak tercapai, kepemimpinan PBNU diminta mengembalikan mandatnya.
Musyawarah Kubro tersebut digelar pada Ahad (21/12) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Forum ini dihadiri ratusan kiai, masyayikh, serta pengurus NU dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara langsung maupun daring. Tercatat sebanyak 601 peserta hadir secara luring dan 546 peserta mengikuti secara daring, mewakili 308 PWNU dan PCNU.
Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, KH Oing Abdul Muid atau Gus Muid, menyampaikan bahwa para kiai sepuh menyatakan keprihatinan mendalam atas konflik internal PBNU yang dinilai semakin tajam dan belum menemukan titik temu.
Upaya islah yang sebelumnya ditempuh melalui berbagai forum masyayikh dan sesepuh NU, termasuk pertemuan di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri dan Pesantren Tebuireng Jombang, disebut belum membuahkan hasil.
Menurut para kiai sepuh, konflik berkepanjangan tersebut berdampak serius terhadap soliditas organisasi serta kepercayaan umat dan publik kepada NU sebagai jam’iyyah diniyah ijtima’iyah. Kondisi ini dinilai telah menggerus muruah dan wibawa organisasi.
“Musyawarah Kubro memandang konflik internal PBNU yang berkepanjangan telah meruntuhkan muruah dan wibawa Jam’iyyah Nahdlatul Ulama serta menggerus kepercayaan umat dan publik,” ujar Gus Muid.
Atas dasar itu, forum secara tegas meminta Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf untuk segera melakukan islah secara sungguh-sungguh dengan tenggat waktu 3×24 jam sejak Ahad (21/12) pukul 12.00 WIB.
Apabila islah tidak tercapai, Musyawarah Kubro meminta agar kewenangan kepemimpinan diserahkan kepada Mustasyar PBNU sebagai langkah konstitusional untuk menjaga keutuhan organisasi dan mempersiapkan Muktamar NU 2026. Bahkan, forum juga membuka opsi penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa (MLB) apabila mandat tidak diserahkan, dengan dukungan minimal 50 persen plus satu PWNU dan PCNU.
Menutup pernyataannya, Gus Muid berharap Nahdlatul Ulama senantiasa mendapat perlindungan dan petunjuk Allah SWT agar tetap terjaga keutuhannya.

