Intime – Viralnya label “Tembok Ratapan Solo” di kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di aplikasi Google Maps menuai sorotan. Pengamat menilai label tersebut merupakan bentuk sindiran publik terhadap aktivitas politik Jokowi.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai fenomena itu menunjukkan persepsi masyarakat yang melihat Jokowi masih ingin tetap eksis dalam politik nasional.
Label tersebut muncul pada lokasi rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara No 1, Solo, dan sempat menjadi perbincangan di media sosial.
“Gaya baru yang saya maksud adalah publik seakan belum ingin Jokowi selesai memimpin Indonesia, meskipun sudah dua periode,” kata Iwan di Jakarta, Kamis (19/2).
Iwan menyebut salah satu faktor yang memicu persepsi itu adalah kebiasaan Jokowi membuka kediamannya untuk masyarakat yang ingin berkunjung. Menurut dia, aktivitas tersebut membuat Jokowi tetap mendapat sorotan publik.
Meski kunjungan hanya berupa salaman dan foto bersama, sebagian masyarakat menilai langkah tersebut berlebihan.
Ia menilai aktivitas itu juga dapat dibaca sebagai strategi mempertahankan popularitas dan tingkat penerimaan publik. Selain itu, langkah tersebut dinilai berkaitan dengan agenda politik jangka panjang.
Iwan menyebut strategi tersebut antara lain untuk memperkuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) serta menjaga keberlanjutan posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.
Menurutnya, dinamika tersebut tidak terlepas dari kepentingan politik menuju kontestasi nasional pada 2029.

