Intime – Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai capaian pembangunan Indonesia sepanjang 2025 belum mampu melampaui negara-negara tetangga di kawasan. Karena itu, Indonesia dinilai membutuhkan lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan daya saing global.
Board of Advisors Prasasti, Burhanuddin Abdullah mengatakan berbagai capaian pembangunan selama satu tahun terakhir patut diapresiasi. Upaya pembangunan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, BUMN, UMKM, koperasi, hingga masyarakat luas.
“Catatan perjalanan Indonesia dalam satu tahun terakhir patut diapresiasi. Berbagai langkah pembangunan menunjukkan adanya upaya bersama menuju perbaikan kualitas hidup,” ujar Burhanuddin dalam forum Refleksi Akhir Tahun 2025 untuk Membangun Masa Depan di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (30/12).
Meski demikian, Burhanuddin menegaskan tantangan ke depan masih panjang. Sejumlah indikator menunjukkan posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Dalam Global Talent Competitiveness Index, peringkat Indonesia tercatat menurun dari posisi 65 pada 2020 menjadi peringkat 73 pada 2024. Sementara itu, Human Capital Index Indonesia berada di angka 0,56.
“Artinya, seorang anak Indonesia saat ini hanya akan tumbuh dengan sekitar 56 persen dari potensi produktivitas maksimalnya di masa depan,” kata Burhanuddin.
Dari sisi produktivitas tenaga kerja, Indonesia mencatat sekitar 28.000 dollar Amerika Serikat per pekerja. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang melampaui 150.000 dollar Amerika Serikat per pekerja dan Malaysia yang berada di kisaran 55.000 dollar Amerika Serikat.
Kesenjangan juga tampak pada sektor inovasi. Data paten per satu juta penduduk selama periode 2000–2023 menunjukkan Indonesia hanya mencatat 84 paten, jauh di bawah Singapura dan Korea Selatan.
“Ini bukan sekadar kesenjangan, tetapi sudah menjadi jurang peradaban,” ujar Burhanuddin.
Ia menilai Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan perbaikan bertahap. Diperlukan lompatan besar, konsistensi kebijakan, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan agar daya saing nasional dapat meningkat secara berkelanjutan.

