Penangkapan Maduro Dinilai Perkuat Dominasi Geopolitik Amerika Serikat

Intime – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) memicu kehebohan dunia internasional dan mempertegang dinamika geopolitik global.

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menilai langkah tersebut bukanlah kejutan, mengingat Maduro memang telah lama menjadi target utama pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Menurut Jerry, terdapat dua alasan utama yang mendasari penangkapan Maduro, yakni dugaan keterlibatan dalam perdagangan senjata api ilegal serta penyelundupan narkotika ke Amerika Serikat.

“Maduro sudah lama menjadi target AS. Dua isu besar yang menjeratnya adalah perdagangan senjata ilegal dan narkotika,” ujar Jerry di Jakarta, Senin (5/1).

Ia menyebutkan, penangkapan tersebut disambut positif oleh sejumlah sekutu Amerika Serikat, seperti Argentina, Ekuador, hingga Israel. Bahkan, menurutnya, jutaan rakyat Venezuela turut menyambut penangkapan tersebut dengan suka cita.

“Bukan hanya sekutu AS yang bersorak, jutaan rakyat Venezuela pun ikut bersorak atas penangkapan pemimpin diktator sosialis ini,” katanya.

Namun demikian, langkah AS tersebut menuai reaksi keras dari negara-negara yang selama ini menjadi kolega Venezuela, seperti China, Korea Utara, Kuba, Kolombia, Prancis, hingga Rusia.

“Yang paling terpukul saya kira China, karena sejumlah pejabatnya baru saja bertemu dengan Maduro sebelum penangkapan ini terjadi,” ujarnya.

Jerry memaparkan bahwa penangkapan Maduro menambah daftar kepala pemerintahan dunia yang pernah ditangkap dan diekstradisi oleh Amerika Serikat. Sebelumnya, AS tercatat menangkap pemimpin Filipina Emilio Aguinaldo pada 1901, Presiden Panama Manuel Noriega pada 1990, serta pemimpin Irak Saddam Hussein pada 2003.

“Penangkapan ini secara nyata menunjukkan kekuatan militer Amerika Serikat, khususnya pasukan elit Delta Force,” katanya.

Ia memperkirakan penangkapan tersebut akan memperburuk hubungan AS dengan sejumlah negara pendukung Venezuela. Saat ini, Mahkamah Agung Venezuela telah menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara menggantikan Maduro.

Jerry juga menilai ada keuntungan strategis bagi Trump dengan mengambil alih Venezuela, yakni penguasaan sumber daya alam negara tersebut, terutama cadangan minyak terbesar di dunia yang mencapai sekitar 303 miliar barel.

“Amerika Serikat hanya memiliki sekitar 74 miliar barel, jauh di bawah Venezuela,” pungkasnya.

Sebagai informasi, pada pemilu 2024, Maduro disebut kalah dari Edmundo Gonzalez, namun tetap mempertahankan kekuasaan dengan dukungan militer. Atas sejumlah dugaan kejahatan tersebut, Maduro berpotensi menghadapi empat kali hukuman penjara seumur hidup.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini