Pengamat Ingatkan Risiko di Balik Panen Raya Padi 2026

Intime – Pengamat pertanian Khudori memperkirakan puncak panen padi nasional akan terjadi pada Maret 2026. Perkiraan tersebut merujuk data Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik per 2 Februari 2026 yang mencatat produksi padi mencapai 9,29 juta ton gabah kering giling (GKG) dari panen seluas 1,71 juta hektare.

Menurut Khudori, panen raya tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding tahun sebelumnya, yakni pada periode Februari hingga April 2026. Februari sendiri disebut telah memasuki masa panen besar.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi kabar baik sekaligus tantangan bagi pemerintah dan Perum BULOG. Produksi padi yang tinggi dinilai membuka peluang pemerintah kembali mencapai swasembada beras, sekaligus memudahkan BULOG dalam mencapai target penyerapan 4 juta ton setara beras.

Namun, produksi gabah dalam jumlah besar yang bertepatan dengan musim penghujan dinilai berpotensi menimbulkan persoalan serius, terutama dalam penanganan pascapanen.

Pada puncak panen, produksi gabah melimpah sementara kapasitas pengering dan penggilingan terbatas. Kondisi tersebut berisiko membuat penggilingan dan pedagang kewalahan, terutama penggilingan padi skala kecil yang memiliki keterbatasan modal dan fasilitas.

Jika penyerapan tidak optimal, harga gabah di tingkat petani berpotensi turun di bawah harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram gabah kering panen.

Khudori menjelaskan, kapasitas infrastruktur pengolahan BULOG saat ini masih terbatas. BULOG memiliki 10 sentra pengolahan padi dan tujuh sentra pengolahan beras di berbagai wilayah. Setiap sentra dilengkapi mesin pengering berkapasitas 120 ton per hari dan fasilitas silo berkapasitas 6.000 ton.

Dengan kapasitas produksi sekitar 306 ribu ton beras per tahun, kemampuan tersebut dinilai hanya setara 7,65 persen dari target penyerapan atau kurang dari 1 persen konsumsi nasional.

Karena keterbatasan tersebut, BULOG mengandalkan sekitar 3.000 mitra pengadaan dan mitra pengolahan. Meski kapasitas penggilingan dinilai mencukupi, Khudori menilai kapasitas pengering gabah masih menjadi titik krusial, terutama saat puncak panen berlangsung bersamaan dengan curah hujan tinggi.

Selain itu, distribusi fasilitas pengering dan penggilingan dinilai belum merata antarwilayah. Infrastruktur umumnya terkonsentrasi di sentra produksi seperti Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Khudori menekankan perlunya pemetaan infrastruktur pengering, transportasi, dan gudang secara rinci agar penanganan panen besar dapat dilakukan cepat. Ia juga menyoroti kapasitas gudang BULOG yang dinilai berpotensi tidak mencukupi jika target penyerapan tercapai.

Menurut dia, pemerintah perlu memastikan penyaluran stok beras yang ada agar kualitas dan volume cadangan tetap terjaga serta pengelolaan logistik pangan menjadi lebih efektif.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini