Pengamat Sebut Isu Trump Kuasai Greenland Cuma Alat Konsolidasi Global

Intime – Pengamat Geopolitik dari Global Future Institute, Hendrajit menilai isu ambisi Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump untuk menguasai Greenland tidak perlu disikapi secara berlebihan.

Menurut dia, isu tersebut lebih merupakan bagian dari operasi politik global untuk menyatukan kepentingan strategis Amerika Serikat dan Eropa.

Hendrajit mengatakan, narasi pengambilalihan Greenland hanyalah “operasi bendera palsu” yang bertujuan mengonsolidasikan kepentingan negara-negara besar dalam forum internasional seperti G7 dan World Economic Forum di Davos, Swiss.

“Isu Greenland itu bukan substansi utama. Itu hanya alat untuk menyatukan kepentingan strategis AS dan Eropa,” ujar Hendrajit di Jakarta, Kamis (22/1).

Ia menilai, sosok Donald Trump justru berfungsi sebagai figur antagonis yang dibutuhkan kekuatan global status quo.

Menurut Hendrajit, ketika sistem kapitalisme global berbasis korporasi tengah mengalami guncangan, figur kontroversial seperti Trump diperlukan untuk menciptakan legitimasi konsolidasi kekuatan.

“Trump adalah sosok antagonis yang diperlukan kekuatan global status quo. Ketika misi penyelamatan kapitalisme global berhasil, ia bisa dengan mudah disingkirkan,” katanya.

Ia bahkan membandingkan posisi Trump dengan figur-figur sejarah yang tersingkir setelah perannya dianggap selesai.

Hendrajit menambahkan, menyingkirkan Trump dari panggung politik dalam negeri AS bukanlah perkara sulit. Ia merujuk pada kekuatan jejaring intelijen Amerika yang telah terbangun sejak era Allen Dulles pada 1947 dan memiliki jangkauan lintas negara.

Menurut Hendrajit, kondisi geopolitik global saat ini sejalan dengan peringatan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah menganalogikan situasi dunia menyerupai fase menjelang Perang Dunia I dan II.

Karena itu, Hendrajit mendorong negara-negara berkembang di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin untuk segera menyusun strategi perimbangan kekuatan.

“Langkah ini penting agar kepentingan strategis negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak terpinggirkan,” ujarnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini