Intime – Perjuangan dan semangat seorang anak dari Timur Indonesia, Berheta Simuna, menyemarakkan penyelenggaraan Olimpiade Genomik Indonesia (OGI) 2025. Siswa kelas 12 SMA Negeri Saengga, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat ini menempuh perjalanan panjang dan berliku hanya untuk bisa sampai ke Jakarta.
Perjalanannya dimulai dengan naik motor selama 5 menit ke pelabuhan, dilanjutkan dengan kapal laut selama 4 jam, menginap, lalu melanjutkan perjalanan darat selama 7 jam, dan diteruskan dengan dua kali penerbangan pesawat sebelum akhirnya tiba di lokasi lomba di Universitas Indonesia. Perjalanan yang melelahkan itu tidak menyurutkan niatnya untuk belajar dan berkompetisi.
“Di sini saya dapat banyak teman, banyak belajar, dan mencoba praktik dengan alat-alat laboratorium. Itu pengalaman pertama,” ujar Berheta dengan penuh semangat.
Ia bersama dua finalis lainnya asal Papua Barat, Prajanita Oktavianty Korowa (SD Katolik Santa Lauren Bintuni) dan Varrent Vemaria Val Rooey (SD Inpres Kokas), berhasil menyisihkan 108 peserta lainnya dari tanah Papua dalam babak penyisihan.
Tak hanya pengalaman akademis, Berheta juga membagikan pengalaman uniknya selama di Jakarta. Ia mengaku harus selalu memakai masker karena tidak tahan dengan dinginnya udara ber-AC.
“Saya tidak bisa kena dingin terlalu lama, jadi pusing dan mual. Tapi puji Tuhan, lama-lama bisa beradaptasi,” ceritanya.
Partisipasinya di OGI 2025 tidak hanya sekadar berlomba, tetapi juga membuka wawasan dan mimpinya yang baru. Dari yang awalnya bercita-cita menjadi dosen atau advokat pendidikan, kini ia bercita-cita untuk kuliah di Program Studi Biologi Universitas Indonesia.
“Semangat belajar, berdoa, dan berusaha. Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, semuanya Tuhan yang menentukan. Dari OGI saya belajar bahwa semua butuh perjuangan, kesabaran, ketabahan, dan banyak bersyukur,” pesannya untuk anak-anak muda sebayanya.
Kisah Berheta adalah cerminan dari potensi dan tantangan yang dihadapi anak-anak di Papua Barat. Daerah dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, namun masih berjuang dengan akses pendidikan dan infrastruktur.
Partisipasi OGI 2025 menjangkau seluruh penjuru Indonesia. Data panitia menunjukkan antusiasme tertinggi datang dari Jawa Timur (374 peserta), Jawa Barat (301), Sumatera Utara (222), dan DKI Jakarta (215). Papua Barat berkontribusi dengan 106 peserta, sementara beberapa provinsi seperti Bangka Belitung dan Sulawesi Barat masih memiliki peserta yang relatif sedikit.
wali salah satu finalis, Shinryu Aditya Viriyajetu menyebut OGI sebagai “miniatur Indonesia” yang mempersatukan anak-anak dari berbagai latar belakang.
“Anak-anak cepat akrab, bergembira, berproses bersama, dan belajar menghargai perbedaan. Saya juga terkesan pada peserta dari daerah afirmasi yang semangat juangnya luar biasa,” ujarnya.
Semangat Berheta dan ribuan peserta OGI lainnya menjadi bukti nyata bahwa dengan perjuangan dan dukungan, anak Indonesia dari mana pun dapat meraih mimpi dan menghadirkan inspirasi.