Intime – Peluang Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk melesat pada Pemilu 2029 diragukan sejumlah pengamat. Mereka menilai optimisme yang disampaikan PSI dalam Rakornas di Makassar, Sulawesi Selatan, tidak sejalan dengan realitas peta politik ke depan.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah mengatakan, persaingan politik pada Pemilu 2029 akan semakin ketat dengan munculnya partai-partai baru.
“Besar kemungkinan ada partai politik baru yang mau tidak mau memengaruhi kontestasi. PSI bisa jadi makin kesulitan,” kata Dedi, Rabu (4/2).
Ia menilai kemunculan Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat berpotensi menggerus ceruk pemilih PSI, khususnya pemilih muda dan pemilih perkotaan. Padahal, menurut Dedi, peluang terbesar PSI justru terjadi pada Pemilu 2024.
“Waktu itu Jokowi masih presiden, Gibran maju sebagai cawapres, Bobby Nasution juga berkontestasi. Itu semua kekuatan politik yang seharusnya jadi momentum puncak PSI,” ujarnya.
Direktur Eksekutif P3S Jerry Massie turut menilai ambisi PSI terlalu besar jika ingin merebut basis suara partai dominan seperti PDI Perjuangan. Menurutnya, PSI lebih tepat bersaing dengan partai-partai lapis kedua. Ia bahkan menyebut peluang PPP lolos ke parlemen lebih besar dibanding PSI.
Sementara itu, pengamat politik Ray Rangkuti meragukan PSI bisa menembus Senayan selama ambang batas parlemen masih 4 persen.
Ia menilai suara pendukung Jokowi pada Pemilu 2024 tidak terkonsentrasi ke PSI, melainkan menyebar ke Gerindra, Golkar, dan PAN.
“Efek Jokowi sebagai mantan presiden juga tidak akan sebesar saat masih menjabat. Sejarah menunjukkan, pengaruh mantan presiden terhadap suara partai cenderung menurun,” kata Ray.

