Puan: Kematian Siswa SD di Ngada Jadi Teguran Negara Soal Pendidikan dan Kesehatan Mental Anak

Intime – Ketua DPR RI Puan Maharani angkat bicara soal kasus tragis bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak berusia 10 tahun itu diduga mengakhiri hidupnya karena kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen seharga Rp 10.000.

“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran,” kata Puan dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2).

Puan menilai peristiwa tersebut menjadi peringatan keras bagi negara. Menurutnya, pemenuhan hak pendidikan anak tidak cukup hanya dengan menyediakan sekolah gratis. Negara juga harus memastikan kebutuhan penunjang sekolah dapat diakses oleh seluruh anak, khususnya dari keluarga miskin.

“Program-program pendidikan terutama beasiswa dan bantuan pendidikan harus bisa mengatasi persoalan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak sekolah memiliki peran penting untuk memetakan kondisi sosial ekonomi siswa. Dengan begitu, kebutuhan pendidikan anak bisa terdeteksi sejak dini dan dicegah menjadi tekanan psikologis.

“Sekolah harus bisa memetakan latar belakang anak didiknya dan memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat diberikan,” lanjut Puan.

Puan juga menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan psikologi anak. Ia menyebut kasus di Ngada sebagai bukti bahwa tekanan ekonomi dapat berdampak serius pada kondisi mental anak.

“Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian. Psikologi anak sangat berpengaruh terhadap keputusan yang mereka ambil,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Puan mendorong pemerintah agar memperkuat sinergi antara program pendidikan dan bantuan sosial. Menurutnya, kemiskinan menjadi akar persoalan dalam kasus ini dan harus ditangani secara komprehensif.

“Kita perlu melihat persoalan di Ngada secara lebih jauh lagi. Negara harus menghilangkan akar masalah kemiskinan,” tegas Puan.

Ia berharap kejadian ini menjadi momentum evaluasi sistem pendidikan nasional agar lebih ramah anak dan sensitif terhadap kondisi ekonomi serta psikologis siswa.

Diketahui, YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, meninggal dunia akibat gantung diri. Ia tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di sebuah pondok reot. Ibunya yang berstatus janda bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anak, namun tidak mampu membelikan alat tulis yang diminta korban.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini