“Utopia adalah sebuah masyarakat yang diatur berdasarkan kesadaran tentang kebodohan, bukan kesadaran tentang pengetahuan” -Nassim Nicholas Taleb
Kesadaran Kritis (Conscientização) merupakan gagasan sosial dan pendidikan yang dicetuskan oleh pendidik dan filsuf asal Brasil, Paulo Freire. Konsep ini terkenal melalui karyanya yang penting, Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas).
Kesadaran Kritis melampaui sekadar memiliki “kesadaran”; ini adalah pendalaman sikap sadar yang bertransformasi menjadi intervensi kritis terhadap realitas (refleksi). Menurut Freire, kesadaran kritis yang otentik tidak dapat dicapai tanpa adanya tindakan. Kombinasi antara refleksi dan tindakan inilah yang ia definisikan sebagai “praksis.”
Freire mengkritik pendidikan tradisional, yang ia sebut sebagai “model perbankan,” karena dianggap menghambat perkembangan kesadaran kritis. Menurutnya, model ini memperlakukan siswa secara pasif, seolah-olah mereka adalah wadah kosong yang hanya perlu diisi informasi oleh pihak penindas.
Sebagai alternatif, ia mengusulkan pendekatan pendidikan berbasis pemecahan masalah. Dalam konsep ini, guru dan siswa berkedudukan setara sebagai mitra dialog, bersama-sama meneliti dan memecahkan realitas hidup mereka sebagai “masalah.” Proses ini bertujuan untuk menumbuhkan pemikiran kritis dan kemandirian siswa.
Konsep ini telah memberikan pengaruh pada berbagai bidang, termasuk pedagogi kritis, pekerjaan sosial, pengorganisasian komunitas, dan teologi pembebasan. Penerapannya sering terlihat dalam gerakan akar rumput, misalnya, untuk mempromosikan pemberdayaan di kalangan kelompok marjinal.
Konsep peningkatan kesadaran kritis Freire berhubungan erat dengan ilmu desain etis. Ilmu desain etis mengintegrasikan prinsip moral dan keadilan sosial ke dalam metodologi desain. Keduanya berfokus pada pemberdayaan pengguna yang terpinggirkan, mempromosikan inklusivitas, dan memastikan desain menciptakan kesetaraan, bukan penindasan.
Dalam desain etis, para perancang menerapkan dialog berkelanjutan dengan para pemangku kepentingan, terutama dari komunitas yang kurang terlayani, untuk menumbuhkan kesadaran akan isu-isu sistemik. Pendekatan ini menyerupai metode pendidikan pemecahan masalah Freire. Etika berbasis praktik ini mengubah pengguna pasif menjadi agen yang berpartisipasi aktif, sehingga mencegah desain yang bersifat “dari atas ke bawah” dan mengabaikan realitas sosial yang ada.
Ilmu desain etis mengkritik bagaimana inovasi ilmiah dan teknologi dapat menanamkan ketidakseimbangan kekuasaan. Dengan mengambil inspirasi dari konsep Freire, para desainer menerapkan kesadaran kritis untuk mengkaji dilema etis selama proses desain. Pengaruh Freire tampak dalam framework seperti desain yang peka terhadap nilai – nilai etika atau “desain pembebasan”, di mana kesadaran kritis membantu “mendekolonisasi” sains dengan memprioritaskan pengetahuan masyarakat adat dan hasil anti-penindasan daripada efisiensi atau keuntungan.
Freire menguraikan pandangannya secara mendalam dalam “Pedagogi Harapan,” di mana ia berpendapat bahwa keputusasaan dan pesimisme merupakan instrumen yang digunakan oleh pihak penindas. Intinya, jika seseorang yakin bahwa masa depan telah ditetapkan dan tidak dapat diubah (seperti dalam pandangan distopia), maka upaya untuk memperjuangkannya dan melakukan perubahan akan terhenti.
Solarpunk sering didefinisikan sebagai “Optimisme adalah bentuk dari Perlawanan”. Visi ini merupakan penolakan terhadap visi distopia korporat berteknologi tinggi dan kehidupan kelas bawah yang diusung oleh “Cyberpunk.” Sebagaimana Freire mengajarkan para petani untuk mampu membaca dan menulis sejarah mereka sendiri, Solarpunk memberdayakan masyarakat dengan mengajarkan bahwa kita dapat menciptakan masa depan yang subur, ramah dengan alam dan maju secara teknologi. Hal ini hanya akan terwujud jika kita secara aktif merebut kembali kemampuan kita untuk membangun visi utopia tersebut.
Solarpunk membutuhkan kesadaran kritis dan kolektif terhadap krisis sistemik (lingkungan, eksploitasi korporasi, ketidakadilan sosial). Prosesnya melibatkan dialog dan refleksi (istilah Freire) untuk memahami bagaimana ketergantungan pada bahan bakar fosil atau kapitalisme ekstraktif menindas. Ini diwujudkan dalam gerakan akar rumput, seperti berkebun bersama di kota atau koperasi energi terbarukan, yang membuat partisipan sadar akan kemampuan mereka membongkar sistem para penindas.
Filosofi Solarpunk menggabungkan kesadaran kritis dan desain etis sebagai dasar membangun dunia yang tangguh. Ini diwujudkan melalui narasi dan praktik nyata. Dengan desain partisipatif, komunitas terlibat dalam dialog untuk memahami kebutuhan lokal, kemudian merancang solusi etis seperti jaringan listrik mikro tenaga surya atau pertanian regeneratif.
Visi Solarpunk memadukan kedua konsep ini bertujuan untuk mendemokratisasi sains dan teknologi. Hal ini bertransisi dari menjadikan individu sebagai konsumen pasif menjadi pencipta aktif yang berkontribusi pada biosfer yang makmur dan adil. Hubungan ini lebih dari sekadar konsep; ini adalah ajakan untuk mengambil tindakan nyata menuju kehidupan yang lebih damai, makmur dan berkelanjutan.
Wirendra Tjakrawerdaja
Petani regeneratif dan praktisi permakultur
Cilacap, Januari 2026

