Intime – Sekretaris Jenderal Aliansi Damai Anti Penistaan Islam (ADAPI), M Idris Hady, meminta publik dan sesama aktivis tidak tergesa-gesa menilai langkah strategis tokoh pergerakan, termasuk kunjungan Eggi Sudjana ke Solo untuk menemui Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Menurut Idris, perdebatan yang berkembang di ruang publik terkait langkah para aktivis sering kali menguras energi dan berujung pada polemik internal. Padahal, fokus utama perjuangan seharusnya tetap pada penyampaian pesan moral kepada figur berpengaruh agar bersikap jujur dan adil.
“Perjuangan itu tidak pernah linier. Di dalamnya selalu ada intrik, manuver, dan risiko perpecahan. Karena itu, langkah yang tampak kontroversial seharusnya dilihat sebagai bagian dari strategi, bukan pengkhianatan,” kata Idris dalam keterangannya, Senin (26/1).
Ia menilai, narasi yang berkembang terkait restorative justice terhadap Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis telah memicu kecurigaan di kalangan aktivis sendiri. Padahal, menurutnya, strategi perjuangan kerap membutuhkan pendekatan yang tidak selalu sejalan dengan idealisme moral yang terlihat di permukaan.
Idris mengingatkan bahwa Eggi Sudjana merupakan aktivis senior yang telah melalui berbagai fase perlawanan sejak era Orde Baru. Pengalaman panjang tersebut membentuk cara pandang yang memadukan idealisme dengan realitas politik.
Lebih jauh, Idris menyoroti kecenderungan sebagian aktivis yang menuntut kesempurnaan moral dari figur penyampai pesan. Menurutnya, dalam tradisi dakwah dan perjuangan, terdapat tingkatan dalam menyampaikan kebenaran, mulai dari sekadar menggugurkan kewajiban hingga idealitas antara ucapan dan perbuatan.
“Menilai tokoh perjuangan secara hitam-putih hanya akan melemahkan barisan sendiri,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa perpecahan internal justru membuka ruang bagi pihak lain untuk bergerak lebih rapi dan terorganisir, termasuk dalam penguasaan sumber daya alam nasional.

