Target Pertumbuhan 6 Persen Dinilai Ambisius Tanpa Reformasi Struktural

Intime – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai target pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen pada 2026 masih memungkinkan dicapai, namun bersifat ambisius jika melihat kondisi ekonomi saat ini.

“Dalam kondisi Indonesia sekarang, target itu lebih tepat disebut ambisius,” kata Rizal dalam keterangannya, Selasa (17/2).

Rizal menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat hanya mencapai 5,11 persen. Selain itu, sejumlah indikator menunjukkan pelemahan permintaan domestik sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia mengungkapkan bahwa porsi pendapatan untuk konsumsi mengalami penurunan dengan average propensity to consume (APC) sekitar 72 persen. Di sisi lain, kelas menengah juga mengalami penyusutan, sementara transmisi ke sektor riil dinilai masih tertahan akibat tingginya biaya modal.

Menurut Rizal, yield Surat Berharga Negara yang relatif tinggi menyebabkan suku bunga kredit tidak cepat turun, sehingga membatasi ekspansi dunia usaha. Kondisi tersebut menunjukkan persoalan ekonomi tidak lagi sekadar berkaitan dengan kurangnya stimulus.

“Masalah utama Indonesia saat ini adalah mesin pertumbuhan yang belum cukup kuat secara struktural. Tanpa perubahan kebijakan, baseline pertumbuhan realistis masih berada di kisaran 5,0 hingga 5,3 persen,” ujarnya.

Rizal menilai, jika pemerintah ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026, terdapat sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan. Pertama, pemerintah perlu memulihkan daya beli masyarakat mengingat konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 53 persen terhadap produk domestik bruto.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui stabilisasi harga pangan serta peningkatan kualitas lapangan pekerjaan. Kedua, pemerintah perlu mendorong investasi swasta, khususnya di sektor manufaktur, melalui kepastian regulasi, pembiayaan yang lebih terjangkau, serta proyek pemerintah yang mampu mendorong partisipasi swasta.

Ketiga, peningkatan produktivitas tenaga kerja menjadi faktor penting, terutama dalam mengatasi mismatch tenaga kerja, deindustrialisasi dangkal, serta stagnasi ekspor manufaktur.

Rizal menegaskan, pertumbuhan ekonomi 6 persen hanya realistis apabila perekonomian bertransformasi dari pertumbuhan berbasis belanja menuju pertumbuhan berbasis produksi dan investasi.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini