Intime – Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menguji sampel makanan dan minuman untuk menyelidiki dugaan keracunan yang dialami 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua pada Rabu (21/10).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Fusia Meidiawaty mengatakan, sampel makanan telah dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Bogor untuk diperiksa.
“Sampel makanan yang dimakan semua, dari yang tersedia di bank sampel, itu dibawa untuk diperiksa,” kata Fusia di Rumah Sakit Paru Gunawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua, Kamis (22/10).
Ia menjelaskan, pemeriksaan mencakup sampel makanan yang disimpan sebagai bank sampel serta sampel lain yang diambil untuk kepentingan pengujian laboratorium.
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi para siswa terdiri dari nasi, telur, sayuran berupa wortel dan jagung, serta susu ultra high temperature (UHT).
Berdasarkan keterangan para siswa, gejala seperti pusing, mual, dan sakit perut mulai dirasakan kurang dari 30 menit setelah mereka menyantap makanan tersebut.
“Kalau anak-anak bilang, dari dia makan itu sekitar kurang dari 30 menit, mereka sudah merasakan itu,” ujar Fusia.
Meski demikian, Dinas Kesehatan belum dapat memastikan penyebab kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan paling cepat diketahui dalam waktu 3 x 24 jam, bergantung pada proses pengujian.
Sementara itu, Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, hasil laboratorium akan menjadi dasar pemerintah daerah untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Nanti hasil uji laboratoriumnya keluar, kami baru bisa menyimpulkan apakah ini betul keracunan makanan atau keracunan minuman,” kata Rudy.
Ia menambahkan, apabila ditemukan indikasi tertentu, Pemkab Bogor akan menyampaikan rekomendasi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Badan Gizi Nasional (BGN) sesuai kewenangan masing-masing.
Menurut Rudy, kewenangan operasional SPPG berada pada BGN. Adapun pemerintah daerah berfokus pada pelayanan kesehatan siswa yang terdampak.
Dari 103 siswa yang mendapatkan perawatan, sebagian besar dilaporkan dalam kondisi stabil dan diperkirakan dapat dipulangkan secara bertahap. Satu siswa lainnya masih terindikasi membutuhkan rawat inap.
Pihak BGN dan SPPG juga disebut telah mendampingi para siswa selama menjalani penanganan medis di RSPG Cisarua.

