Intime – Harga emas dunia kembali bergerak dinamis pada perdagangan terbaru, mencerminkan tarik-menarik antara sentimen geopolitik global dan ekspektasi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pada sesi Amerika Utara, Rabu (21/1), harga emas spot atau XAU/USD menguat sekitar 0,25 persen dan diperdagangkan di kisaran 4.772 dollar AS per troy ounce.
Penguatan ini terjadi setelah harga emas sempat mencetak rekor tertinggi baru di level 4.888 dollar AS per troy ounce. Namun, reli tersebut tertahan seiring pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan bahwa opsi militer terkait isu Greenland tidak akan ditempuh.
Klarifikasi tersebut sedikit meredakan kekhawatiran pasar, meski belum sepenuhnya menghilangkan minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha menilai, dari sisi teknikal, pergerakan emas masih berada dalam tren naik yang kuat. Struktur candlestick dan posisi harga yang bertahan di atas sejumlah indikator moving average utama menunjukkan tekanan beli masih mendominasi pasar.
“Koreksi yang terjadi saat ini tergolong sehat dalam konteks tren bullish jangka menengah hingga panjang,” ujar Andy di Jakarta, Kamis (22/1).
Selama harga mampu bertahan di atas area support krusial, peluang penguatan lanjutan dinilai masih terbuka.
Dalam proyeksi jangka pendek, Andy menyebut area 4.900 dollar AS berpotensi kembali diuji apabila sentimen positif tetap terjaga. Sementara itu, level 4.756 dollar AS dipandang sebagai support terdekat yang penting untuk menjaga struktur tren naik.
Dari sisi fundamental, harga emas juga dipengaruhi perubahan sikap Gedung Putih terkait kebijakan perdagangan dan geopolitik.
Pada sesi Asia, Kamis (22/1), harga emas sempat bergerak fluktuatif di sekitar 4.790 dollar AS setelah Trump menarik kembali ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa.
Pelaku pasar kini menanti rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan kebijakan Federal Reserve.
Selama ketidakpastian geopolitik dan moneter global masih tinggi, emas diperkirakan tetap menarik bagi investor sebagai instrumen lindung nilai.

