Hashim Sebut Dolar bisa Tembus Rp 22 Ribu Gegara MSCI, Bos BI Buka Suara

Intime — Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah kekhawatiran dampak rencana penurunan status pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

MSCI sebelumnya membuka proposal konsultasi mengenai kemungkinan penurunan status Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market. Wacana tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

Destry mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga dibandingkan negara-negara lain dalam kelompok yang sebanding.

“Kalau kita lihat pergerakan rupiah kan memang sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group kita,” kata Destry kepada wartawan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10).

Menurut Destry, nilai tukar merupakan bagian dari dinamika pasar yang dipengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran serta persepsi pelaku pasar. Karena itu, perubahan kurs tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sentimen global.

Ia mencontohkan, pergerakan pasar dapat merespons keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, terkait suku bunga. Destry menyebut sentimen positif muncul setelah keputusan The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga.

“Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global, ‘Oh Amerika nggak naikkan suku bunga The Fed’, dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita,” ujarnya.

Destry menegaskan, BI akan tetap memprioritaskan stabilitas sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi ekonomi yang kondusif. Stabilitas nilai tukar dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan sektor riil dan mendorong penciptaan lapangan kerja.

“Kita sudah punya komitmen yang kuat bahwa fokus di kita itu adalah memang menjaga stabilitas. Jadi stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hashim Djojohadikusumo memperingatkan potensi rupiah melemah hingga Rp 20.000-Rp 22.000 per dollar AS apabila terjadi penarikan modal asing akibat perkembangan terkait MSCI.

Hashim juga menyoroti dugaan praktik perdagangan saham tidak sehat, termasuk saham gorengan, yang menurutnya menjadi perhatian dalam penilaian pasar modal Indonesia. Ia menyinggung saham dengan *free float* terbatas dan rasio harga terhadap laba atau *price to earnings ratio* (P/E ratio) yang dinilai tidak wajar.

Meski demikian, proyeksi pelemahan rupiah tersebut merupakan skenario yang disampaikan Hashim. BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika pasar global dan domestik.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini