Hendrajit soal Indonesia Gabung BoP: Bukan Percaya AS, tapi Antisipasi Perubahan Dunia

Intime – Pengkaji geopolitik Hendrajit menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung dengan Board of Peace (BoP) tidak dilandasi kepercayaan terhadap Amerika Serikat atau figur tertentu.

Menurutnya, langkah tersebut didasarkan pada pembacaan atas perubahan besar dalam tatanan global.

Hendrajit membandingkan langkah Prabowo dengan strategi Soekarno-Hatta saat bekerja sama dengan Jepang pada 1942. Kala itu, kolaborasi dilakukan bukan karena percaya Jepang akan memberi kemerdekaan, melainkan keyakinan bahwa Jepang akan kalah dan membuka masa transisi kekuasaan.

“Yang direbut Bung Karno dan Bung Hatta adalah masa transisi. The interim period must be mine,” kata Hendrajit dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (11/2).

Ia menilai pilar-pilar tatanan dunia pasca Perang Dunia II, terutama sistem ekonomi dan keuangan global, mulai rapuh. Situasi ini, menurutnya, mirip dengan kondisi menjelang Perang Dunia I dan II, ketika konflik antarnegara besar meningkat dan solusi damai makin sulit dicapai.

Dalam kondisi tersebut, Hendrajit menyebut BoP sebagai sarana agar Indonesia tidak berada di luar pagar dalam pembentukan tatanan dunia baru.

“Kalau tujuan strategisnya merebut masa transisi, maka kita harus ada di dalam, bukan sekadar penonton,” ujarnya.

Hendrajit juga menekankan bahwa isu Palestina harus dipahami sebagai bagian dari masalah geopolitik global yang lebih luas.

Ia menilai konflik Palestina merupakan warisan kesepakatan negara-negara besar sejak era Perang Dunia I dan II, termasuk Deklarasi Balfour dan pembagian wilayah Palestina di PBB pada 1947.

Ia menyoroti sikap negara-negara Eropa dan NATO yang menolak terlibat dalam BoP, sementara delapan negara Islam, termasuk Indonesia, justru bergabung. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya pergeseran kepentingan global.

Meski demikian, Hendrajit menegaskan langkah Prabowo tetap perlu dikritisi secara konstruktif. Kritik, menurut dia, seharusnya diarahkan pada efektivitas strategi, bukan didasarkan pada cara pandang lama yang menganggap konstelasi global masih sama seperti puluhan tahun lalu.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini