Karhutla 513 Hektare Ditemukan di Taman Nasional Tanjung Puting

Intime – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 513,89 hektare ditemukan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Kebakaran baru tersebut menjadi salah satu titik yang tengah menjadi prioritas penanganan pemerintah.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan temuan itu kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan karhutla di Istana Merdeka, Senin (12/10).

Suharyanto mengatakan, hingga Senin, luas lahan yang masih terbakar dan ditangani satuan tugas (satgas) di lapangan mencapai 639,23 hektare. Sebagian besar kebakaran terjadi di Kalimantan Tengah.

“Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kota Waringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana,” kata Suharyanto.

Ia menjelaskan, meskipun kawasan tersebut bukan lahan gambut, kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting tetap harus segera ditangani. BNPB menambah personel dan peralatan Satgas Darat untuk mendukung upaya pemadaman.

Sementara itu, pemadaman melalui jalur udara masih menghadapi kendala jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap tebal.

Menurut Suharyanto, upaya penerbangan dari Palangka Raya melalui Bandara Tjilik Riwut dan dari Banjarmasin melalui Bandara Syamsudin Noor belum dapat dilakukan secara optimal. Kondisi tersebut juga menghambat operasi helikopter pengebom air dan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah.

Hingga 12 Oktober 2026, BNPB mencatat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan sebagai dua provinsi yang menghadapi karhutla cukup berat. Di wilayah lain, kebakaran masih ditemukan, tetapi dinilai lebih mudah dipadamkan.

BNPB tetap mengerahkan helikopter pengebom air untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses, termasuk Taman Nasional Way Kambas, Tanjung Puting, dan Halmahera Timur.

Untuk Sumatera Selatan, Satgas Udara baru dapat terbang pada Senin dan direncanakan mendukung operasi modifikasi cuaca.

Suharyanto berharap hujan alami yang diprediksi mulai turun pada pertengahan Oktober hingga November dapat membantu mengurangi kebakaran. Namun, ia menegaskan satgas akan terus mengerahkan kemampuan yang tersedia sebelum musim hujan tiba.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini