Intime – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprediksi angka masyarakat yang terindikasi tuberkulosis (TBC) akan menurun tahun ini. Sebab, upaya pemerintah dalam pengentasan penyakit infeksi menular ini makin masif.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, angka masyarakat yang terdeteksi TBC menunjukkan tren menurun di tengah berbagai upaya yang ditingkatkan pemerintah.
Misalnya, pada 2024 estimasi kasus TBC sekitar 1.092.000 kasus dan menurun menjadi 1.090.000 kasus pada 2025. Lalu, pada 2026 ini diperkirakan turun lagi menjadi 1.080.000 kasus.
“Dalam waktu satu tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO, jadi tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (30/9).
Penurunan jumlah estimasi kasus ini terjadi karena berbagai upaya yang dilakukan pemerintah. Pertama, melaksanakan skrining terhadap masyarakat melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Sebagai contoh, hasil skrining 20,6 juta orang lewat CKG di Puskesmas, Sekolah, Pesantren dan lainnya, menunjukkan 360,7 ribu orang memiliki tanda dan gejala TBC, serta 26,8 ribu orang positif TBC baru.
Kedua, pemerintah meningkatkan pencegahan dan pengobatan untuk penderita atau pengidap TBC. Dalam hal ini, Kemenkes mempersingkat durasi pengobatannya.
Dante menjelaskan, sebelumnya pengobatan TBC itu berlangsung 9 bulan sampai 20 bulan. Namun, sejak 2024, durasinya berhasil dipersingkat menjadi 6 bulan melalui pengobatan TB RO BPaL/M.
Kemudian, saat ini pemerintah bersama TB Alliance tengah mengembangkan obat regimen baru yang memungkinkan durasi pengobatan dipersingkat lagi menjadi 1 bulan.
“Ini tadinya 6 sampai 9 bulan, itu terlalu banyak obat. Sekarang satu bulan saja. Ini satu bulan kita sedang melakukan terapi yang agresif untuk masyarakat,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga memberdayakan desa/kelurahan untuk Siaga TBC. Saat ini tercatat 9.759 desa/kelurahan di 154 kabupaten/kota di 29 provinsi telah berkomitmen untuk mencegah dan menanggulangi TBC secara mandiri.
“Kemudian monitoring bersama antara pemerintah pusat dan daerah setiap minggu. Kita melakukan setiap minggu evaluasi,” pungkasnya.

