Intime – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim mengingatkan pemerintah agar berhati-hati terkait rencana pengiriman ribuan tentara Indonesia ke Gaza dalam kerangka International Stabilization Forces (ISF).
Sudarnoto menilai ISF berada di bawah kendali Amerika Serikat dengan tujuan menciptakan stabilitas keamanan wilayah Gaza pascakonflik.
“Sepengetahuan saya, di bawah kendali Amerika. Arahnya sebetulnya menciptakan keamanan wilayah atau membangun stabilitas wilayah Gaza pascakonflik,” kata Sudarnoto dalam keterangan tertulis, Rabu (11/2).
Menurutnya, konsep ISF sejalan dengan agenda demiliterisasi di Gaza dan Palestina secara keseluruhan. Dalam kerangka tersebut, kelompok Hamas yang selama ini melakukan perlawanan bersenjata dinilai menjadi target utama pelucutan senjata.
“Selama ada Hamas bersenjata, keamanan wilayah tidak akan terwujud. Karena itu Hamas harus dilucuti senjatanya. Bukan tentara Israel. Karena itu misi perdamaian dalam perspektif ISF sangat berbahaya,” ujarnya.
Sudarnoto juga menyoroti status ISF yang belum memiliki mandat resmi seperti misi penjaga perdamaian PBB, misalnya UNIFIL di Lebanon atau UNDOF di Golan. Karena itu, ia meminta pemerintah berhati-hati sebelum memutuskan pengiriman pasukan.
Ia mengingatkan agar Tentara Nasional Indonesia tidak terjebak dalam agenda hegemonik negara tertentu yang bertujuan menundukkan Gaza atau Palestina. Jika tidak dipertimbangkan secara matang, menurutnya, pasukan Indonesia berisiko tinggi karena berpotensi berhadapan langsung dengan Hamas.
Sudarnoto menilai situasi tersebut dapat menjadi bencana diplomatik dan merusak reputasi Indonesia sebagai negara yang selama ini dikenal mendukung kemerdekaan Palestina.
“Selama ini Indonesia memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menghapuskan penjajahan, termasuk penjajahan Israel. Karena itu rasional untuk mempertimbangkan kembali pengiriman tentara Indonesia ke Gaza dalam kerangka ISF,” tegasnya.

