Intime — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 dijadwalkan dikukuhkan pada Sabtu (24/10) di Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur.
Sebelum prosesi pengukuhan, pengurus baru PBNU akan menggelar rapat koordinasi (rakor) perdana pada Jumat (23/10). Forum tersebut akan menjadi ajang penyelarasan program kerja para pengurus untuk menjalankan amanat Muktamar NU.
Wakil Ketua Umum PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, persiapan rangkaian acara masih dimatangkan. Sementara lokasi pengukuhan sudah ditetapkan, tempat pelaksanaan rakor perdana masih dibahas.
“Untuk pelantikan, nanti tempatnya di (Pesantren) Al-Hamid, di Cilangkap, di Jakarta Timur, di tempat Gus Lukman. Di sana nanti pelantikannya tanggal 24 pagi, hari Sabtu. Sementara rakornya ini lagi kita cari tempatnya, mungkin di salah satu hotel di Jakarta,” kata Gus Ipul di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Menurut Gus Ipul, rakor perdana diperlukan untuk menyamakan langkah pengurus dalam mendukung kepemimpinan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
“Kita bersyukur semua pengurus punya semangat yang sama, semangat untuk mendampingi, mendukung, membantu Rais Aam dan Ketua Umum melaksanakan hasil-hasil muktamar,” ujarnya.
Terkait kemungkinan kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam acara pengukuhan, Gus Ipul mengatakan belum ada keputusan. Kepastian mengenai undangan dan kehadiran presiden masih menunggu arahan pimpinan tertinggi PBNU.
“Belum sampai ke sana, itu nanti semua menunggu arahan dari Rais Aam dan Ketua Umum,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Katib Aam PBNU Mohammad Nuh menjelaskan, rakor pada Jumat akan diisi pemaparan program dari masing-masing wakil ketua umum.
“Jadi Jumat (23 Oktober), rapat koordinasi saja. Setiap wakil ketua umum sudah menyiapkan programnya apa saja,” ujar Nuh.
Ada pula rencana bagi para pengurus untuk mengenakan sarung selama rangkaian kegiatan. Menurut Nuh, penggunaan sarung bukan sekadar pilihan busana, melainkan simbol identitas kesantrian dan upaya merawat tradisi pesantren.
“Menunjukkan kesantrian. Bagian dari ngeman-ngeman atau ngopen-ngopen tradisilah,” tuturnya.
Melalui rakor dan pengukuhan tersebut, PBNU menyiapkan konsolidasi kepengurusan untuk mengawal pelaksanaan hasil Muktamar NU periode mendatang.

