Intime – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) agar mengedepankan pendekatan humanis saat menjalankan tugas di lapangan.
Pramono meminta personel Satpol PP mampu menahan emosi ketika menghadapi warga. Menurutnya, sikap tersebut penting karena Satpol PP berada di garis depan dalam menjaga wajah Jakarta.
Hal itu disampaikan Pramono saat menghadiri peringatan HUT ke-76 Satpol PP dan HUT ke-64 Satlinmas di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (8/9).
Pramono mengatakan personel Satpol PP berpotensi menghadapi berbagai situasi yang memancing emosi ketika menjalankan tugas.
“Tadi video yang diputar memperlihatkan apa pun yang namanya anggota Satpol PP juga bisa emosional, bisa marah, bisa tersinggung dari hal-hal kecil,” kata Pramono.
Karena itu, dia meminta personel Satpol PP belajar mengendalikan diri ketika berhadapan dengan masyarakat.
“Karena sekarang ini Saudara-saudara ditugaskan di garda terdepan untuk menjaga wajah Jakarta, maka Saudara-saudara sekalian harus bisa menahan diri. Minimal belajar dari gubernurnya-lah,” ujar Pramono.
Pramono kemudian berkelakar mengenai caranya merespons orang yang mengejek dirinya.
“Walaupun kadang-kadang diini (diejek) orang, kan saya senyum-senyum aja,” ucapnya.
Meski demikian, Pramono menegaskan sikap humanis dan tenang tidak berarti Satpol PP harus kehilangan ketegasan dalam menjalankan tugas.
“Walaupun senyumnya pasti apa yang menjadi keinginan, tujuan, dan yang harus diputuskan tetap kita putuskan,” katanya.
Pramono mengapresiasi perubahan wajah Satpol PP Jakarta yang dinilainya semakin humanis. Dia menilai pendekatan tersebut harus berjalan beriringan dengan ketegasan, ketertiban, dan kewibawaan.
“Kalau Saudara-saudara sekalian bisa melewati melalui ini dan kemudian wajahnya lebih humanis, tetap tegas, tetap tertib, tetap berwibawa, saya yakin wajah Jakarta akan total berubah,” tuturnya.
Pramono mencontohkan penertiban di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, terhadap keberadaan Pak Ogah. Menurut dia, penertiban dapat dilakukan tanpa menghilangkan pendekatan humanis.
“Ketika sudah tertib, semua orang bilang ‘Kenapa dulu nggak bisa ditertibkan seperti itu?’ Ini sebagai contoh,” jelasnya.
Menurut Pramono, meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Satpol PP menjadi modal penting bagi Jakarta dalam menuju kota global.
Dia menilai wajah Jakarta tidak hanya ditentukan pembangunan fisik, tetapi juga rasa aman, nyaman, dan ketertiban yang dirasakan masyarakat.

