Intime – Pemerhati sosial Sugiyanto (SGY)–Emik mengaku sangat prihatin atas peristiwa meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Korban diduga mengakhiri hidupnya karena orangtuanya tidak mampu membeli buku dan pulpen untuk bersekolah.
“Di tengah riuh kabar negeri, datang berita yang menyesakkan dada. Seorang anak SD di NTT diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pulpen,” kata SGY dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2).
SGY mengungkapkan kesedihannya yang mendalam atas kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa ini sulit diterima akal sehat di tengah berbagai program pendidikan yang diklaim berpihak pada rakyat kecil.
“Sedih ini amat dalam. Kata-kata seakan enggan hadir, akal pun gagal menalar dengan jernih,” ujarnya.
Ia mempertanyakan mengapa masih ada anak-anak Indonesia yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pendidikan. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah.
“Mengapa peristiwa seperti ini masih terjadi di negeri yang katanya kaya raya? Mengapa masih banyak rakyat hidup dalam susah dan derita?” tegas SGY.
Selain itu, SGY menyoroti peran institusi pendidikan. Ia menyayangkan masih adanya sekolah yang belum mampu menyediakan buku dan alat tulis gratis bagi siswa sekolah dasar.
“Mengapa sekolah-sekolah di negeri ini belum mampu memastikan buku dan pulpen gratis bagi setiap siswa SD?” katanya.
SGY menegaskan peristiwa ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk mengevaluasi sistem perlindungan sosial dan pendidikan.
Ia menilai negara harus hadir lebih kuat agar tidak ada lagi anak-anak yang terjerumus dalam keputusasaan akibat kemiskinan ekstrem.

