Intime – Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan adanya dinamika politik yang “lebih cepat dari 2029” layak dibaca bukan semata sebagai celetukan politik. Apalagi pernyataan itu disampaikan di hadapan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan secara eksplisit mengajak peserta untuk menyiapkan “alternatif” jika terjadi percepatan politik.
Video tersebut kemudian viral dan memunculkan spekulasi mengenai arah politik Jokowi, termasuk masa depan hubungan Prabowo-Gibran menuju Pemilu 2029.
Namun, belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa Jokowi sedang merancang perpisahan Gibran dari Prabowo. Yang lebih menarik justru adalah munculnya ruang politik alternatif di sekitar Jokowi.
Gibran Berpisah dari Prabowo pada 2029?
Secara politik, kemungkinan Gibran Rakabuming Raka tidak kembali menjadi pasangan Prabowo pada 2029 memang terbuka. Tetapi, itu berbeda dengan mengatakan Gibran pasti akan meninggalkan Prabowo.
Ada dua kepentingan yang bisa bertemu sekaligus bertabrakan.
Pertama, Prabowo mempunyai kepentingan mempertahankan kekuasaan hingga 2029 dan berpotensi maju untuk periode kedua. Sejumlah partai di lingkaran pemerintahan sudah berbicara mengenai dukungan kepada Prabowo untuk Pilpres 2029. Bahkan Prabowo sebelumnya pernah menawarkan gagasan agar KIM Plus menjadi koalisi permanen sampai 2029.
Kedua, Gibran memiliki kepentingan politik jangka panjangnya sendiri. Pada 2029, Gibran baru berusia sekitar 38 tahun. Artinya, secara usia, ia tidak harus mengejar posisi presiden pada 2029. Tetapi posisi sebagai wakil presiden selama lima tahun akan memberinya modal politik yang sangat besar.
Karena itu, pertanyaan politiknya bukan sekadar apakah Gibran “berpisah” dengan Prabowo, melainkan apakah kepentingan politik Prabowo dan Gibran pada 2029 masih berada dalam satu kendaraan.
Indikasi bahwa koalisi belum sepenuhnya solid sudah terlihat. Pada awal 2026, misalnya, PKB menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk maju kembali, tetapi belum memberikan kepastian untuk kembali mendukung Gibran sebagai cawapres.
Ini penting. Sebab, pasangan Prabowo-Gibran pada 2024 dibangun oleh konfigurasi politik tertentu. Konfigurasi itu belum tentu identik pada 2029.
Jokowi Justru Memegang Kartu Gibran
Di sinilah posisi Jokowi menjadi menarik.
Jokowi tidak lagi mempunyai jabatan formal dalam pemerintahan. Tetapi secara politik, ia tetap mempunyai aset elektoral, jaringan relawan, pengaruh terhadap sejumlah elite politik, dan yang paling penting: Gibran.
Karena itu, Jokowi tidak harus secara terbuka mengatakan ingin memisahkan Gibran dari Prabowo untuk meningkatkan daya tawarnya.
Cukup dengan tidak mengunci Gibran terlalu dini.
Momen Jokowi, Prabowo, dan Gibran yang terlihat akrab dalam perayaan HUT ke-81 RI bahkan kembali memunculkan spekulasi mengenai arah hubungan ketiganya menuju 2029. Sejumlah analis mengingatkan bahwa keakraban tersebut belum bisa dibaca sebagai kepastian bahwa konfigurasi Pilpres 2029 akan sama dengan 2024.
Dengan kata lain, Jokowi bisa saja mempertahankan semua opsi terbuka: mendukung Prabowo-Gibran jika hubungan politik tetap solid, atau mengubah strategi jika kepentingan politik keluarga dan jaringan pendukungnya membutuhkan konfigurasi baru.
Lalu Apa Makna Pernyataan Budi Arie?
Kalimat Budi Arie mengenai “lebih cepat dari 2029” adalah bagian paling menarik.
Ia tidak mengatakan bahwa Pemilu 2029 pasti dipercepat. Bahkan ia menyebut masih ada skenario Pemilu 2029. Yang dilakukan Budi Arie adalah membuka kemungkinan politik alternatif.
Ini dapat dibaca sebagai trial balloon—melempar gagasan ke ruang publik untuk melihat respons masyarakat dan elite.
Mengapa Budi Arie menyampaikannya di depan Jokowi?
Setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, itu memang spontanitas seorang aktivis yang membaca situasi politik. Kedua, pernyataan tersebut sengaja digunakan untuk menguji bagaimana publik merespons gagasan mengenai perubahan politik sebelum 2029.
Tetapi harus ditegaskan: tidak ada bukti dari pernyataan itu sendiri bahwa Jokowi menyetujui percepatan Pemilu atau sedang menyiapkan langkah untuk menjatuhkan pemerintahan Prabowo. Kesimpulan semacam itu masih terlalu jauh.
Justru yang terlihat adalah adanya upaya mempertahankan ruang manuver politik.
2029: Prabowo-Gibran atau Poros Baru?
Jika pemerintahan Prabowo berjalan stabil dan hubungan dengan Jokowi tetap baik, skenario paling sederhana adalah Prabowo kembali maju dan Gibran kembali menjadi cawapres.
Tetapi jika terjadi perubahan hubungan politik, Gibran bisa menjadi pusat dari konfigurasi baru. Ia memiliki keunggulan sebagai petahana wakil presiden, sekaligus membawa nama besar Jokowi.
Dalam skenario itu, Jokowi berpotensi menjadi kingmaker, bukan karena ia harus maju atau menduduki jabatan tertentu, tetapi karena dukungannya dapat menentukan ke mana jaringan politik dan relawan yang selama ini dibangunnya bergerak.
Maka, membaca pernyataan Budi Arie hanya sebagai isu “Pemilu dipercepat” justru terlalu sempit. Pesan politik yang lebih besar adalah bahwa kubu Jokowi tampaknya tidak ingin mengunci seluruh skenario pada Prabowo-Gibran 2029 sejak sekarang.
Dan jika pola itu berlanjut, pertarungan politik 2029 kemungkinan bukan hanya soal siapa calon presidennya, tetapi siapa yang berhasil menguasai Gibran, jaringan Jokowi, dan mesin politik yang pernah memenangkan pasangan Prabowo-Gibran pada 2024.
Untuk saat ini, Gibran belum punya alasan rasional untuk berpisah dari Prabowo. Namun Jokowi juga memiliki alasan kuat untuk tidak buru-buru memastikan bahwa Gibran akan tetap bersama Prabowo.
Itulah titik politik paling menarik: bukan perceraian yang sudah terjadi, melainkan kemungkinan bahwa Jokowi sedang menjaga opsi perceraian tetap terbuka.

