Jakarta Waspada, 333 Ribu Pengangguran Jadi Alarm Keras Pasar Kerja

Intime – Jumlah pengangguran di DKI Jakarta masih menjadi sinyal peringatan serius. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026, total pengangguran tercatat mencapai 333,86 ribu orang.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengungkapkan meski terjadi penurunan tipis dibanding Februari 2025, kondisi ini belum bisa dianggap aman. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hanya turun 0,15% poin menjadi 6,03%.

“Artinya, dari 100 orang angkatan kerja, masih ada sekitar enam orang yang menganggur,” kata Kadarmanto, Rabu (6/5).

Kesenjangan masih menjadi persoalan. TPT laki-laki tercatat lebih tinggi, yakni 6,54%, dibanding perempuan sebesar 5,28%. Ini menunjukkan ketimpangan akses kerja belum terselesaikan.

Dari sisi pendidikan, peringatan paling keras datang dari lulusan SMA umum yang mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 7,58%. Bahkan lulusan SMK lebih tinggi lagi di angka 8,15%, menandakan dunia pendidikan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri.

Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah ada pada lulusan Diploma 3,58%dan universitas 3,79%, disusul SMP 3,87%, serta SD ke bawah 5,32%.

Di tengah kondisi ini, jumlah angkatan kerja justru meningkat menjadi 5,53 juta orang, dengan 5,20 juta di antaranya bekerja. Dibanding tahun lalu, angkatan kerja bertambah 57,64 ribu orang dan jumlah pekerja naik 62,18 ribu orang, sementara pengangguran hanya turun 4,54 ribu orang—penurunan yang relatif kecil.

Partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga naik tipis ke 65,48 persen. Namun, jurang partisipasi laki-laki 78,83% dan perempuan 52,26% masih lebar, menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

Dari sisi sektor, perdagangan masih mendominasi penyerapan tenaga kerja dengan kontribusi 22,40%, diikuti akomodasi dan makan minum 13,28%, transportasi 11,85% industri pengolahan 10,74%, serta jasa lainnya 10,53%

Mayoritas pekerja di Jakarta berstatus buruh/karyawan/pegawai dengan porsi 57,91%. Namun, ada sinyal yang perlu diwaspadai: proporsi pekerja formal justru menurun tipis. Saat ini, 61,87% bekerja di sektor formal, sementara 38,13% masih berada di sektor informal.

Data ini menjadi alarm bahwa perbaikan pasar kerja Jakarta masih rapuh. Penurunan angka pengangguran yang tipis, ketimpangan gender, hingga dominasi sektor informal menunjukkan perlunya langkah serius agar pertumbuhan ekonomi benar-benar menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -
- Advertisement -spot_img