Intime – Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai semakin menjauh dari cita-cita menjadi negara maju. Ia mengingatkan fondasi ekonomi nasional saat ini rapuh karena terlalu bergantung pada sumber daya alam (SDA), sementara tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan makin kuat.
Menurut Achmad, persoalan utama bukan sekadar besarnya belanja negara, melainkan kualitas kebijakan fiskal yang dianggap belum produktif dan berkelanjutan.
“Jalan menuju Indonesia maju bukan ditentukan besarnya belanja negara semata, tetapi kualitas belanja, daya tahan penerimaan, stabilitas nilai tukar, dan kemampuan menciptakan nilai tambah di luar komoditas mentah,” kata Achmad dalam keterangannya, Rabu (20/5).
Ia mengibaratkan ekonomi Indonesia seperti rumah besar yang ingin naik kelas menjadi gedung bertingkat, tetapi fondasinya masih rapuh karena terlalu bergantung pada hasil penjualan komoditas.
“Ketika harga komoditas bagus, rumah terasa kokoh. Tapi saat harga global berubah, kurs bergerak, biaya impor naik, dan investor mulai ragu, retakannya langsung terlihat,” ujarnya.
Achmad menilai ketergantungan terhadap SDA justru menjadi jebakan serius bagi masa depan ekonomi nasional. Menurutnya, SDA hanya bisa menjadi modal awal pembangunan, bukan sandaran permanen.
“Kalau SDA terus dijadikan penopang utama, itu berubah menjadi jalan buntu,” tegasnya.
Tekanan terhadap ekonomi nasional, lanjut Achmad, tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs JISDOR pada 19 Mei 2026 berada di level Rp17.719 per dolar AS, melemah dibanding Rp17.368 pada 4 Mei 2026.
Bahkan, sejumlah analis global mencatat rupiah sempat menyentuh rekor terendah di Rp17.670 per dolar AS pada 18 Mei 2026 meski Bank Indonesia melakukan intervensi pasar. Pada saat yang sama, cadangan devisa disebut telah terkuras sekitar 10 miliar dolar AS sejak awal tahun.
Achmad mengingatkan kondisi tersebut menjadi alarm serius bahwa fondasi fiskal dan struktur ekonomi Indonesia perlu segera dibenahi jika pemerintah benar-benar ingin membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berbasis komoditas menuju negara maju berbasis industri dan inovasi.

