Intime – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memberikan bantuan kepada korban bencana. Berbagai kegiatan Dedi selama di NTT diunggah melalui akun media sosial pribadinya, @dedimulyadi71.
Langkah Dedi tersebut dinilai positif oleh Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurniansyah. Namun, dia menyoroti adanya potensi pencitraan di balik kegiatan tersebut.
“Memberi bantuan itu baik, yang buruk adalah muatan pencitraan dan hal yang kurang perlu,” kata Dedi Kurniansyah saat dikonfirmasi, Sabtu (22/8).
Dia menilai kunjungan langsung Dedi Mulyadi ke NTT menjadi kesempatan untuk membangun citra sebagai pemimpin yang populis. Menurutnya, kehadiran tersebut juga kurang efisien karena Dedi membawa rombongan dalam jumlah besar.
“Hadirnya Dedi Mulyadi tentu tidak efisien, ia membawa tim besar, pembiayaan di luar nilai bantuan juga pasti turut besar,” ujarnya.
Dedi Kurniansyah mengatakan Dedi Mulyadi berpotensi kehilangan momentum membangun citra apabila tidak datang langsung ke lokasi bencana. Terlebih, Dedi Mulyadi juga aktif sebagai kreator konten di media sosial.
“Jika tidak hadir langsung Dedi Mulyadi kehilangan momentum membangun citra populis, terlebih ia juga merangkap sebagai kreator media sosial,” katanya.
Dia membandingkan langkah tersebut dengan kepala daerah lain yang turut memberikan bantuan kepada korban bencana tanpa menjadikannya sebagai kepentingan politik populis.
“Tentu tidak sebanding dengan pemimpin daerah lain yang sama-sama membantu tetapi tidak dijadikan kepentingan politik populis,” lanjutnya.
Dedi Kurniansyah bahkan menyebut Dedi Mulyadi mengalami “sindrom selebritas”. Dia menilai Gubernur Jabar tersebut tengah mengejar pujian dan simpati publik melalui aktivitas yang terekspos di media sosial.
“Dedi Mulyadi sedang alami sindrom selebritas, haus pujian dan simpati publik,” ujarnya.
Dia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terlena dengan berbagai aktivitas yang ditampilkan melalui media sosial.
Menurutnya, masih banyak persoalan di Jawa Barat yang membutuhkan perhatian Dedi Mulyadi, termasuk masalah kemiskinan.
“Tingkat kemiskinan masyarakat Jabar juga masih tinggi, tetapi Dedi Mulyadi kurang tertarik karena mungkin punya orientasi politik yang lebih besar,” pungkasnya.

