Intime – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyoroti pasien yang menjalani cuci darah kini semakin muda. Bahkan, warga berusia sekitar 20 tahun disebut sudah banyak mengakses layanan cuci darah di rumah sakit.
Wakil Kepala Dinkes DKI Jakarta Savitri Handayana menyampaikan hal itu dalam acara World Pharmacist Day 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (25/9).
“Saat ini kita bisa melihat range daripada usia yang mengakses layanan cuci darah itu bukan semakin tua, tetapi semakin muda. Kita bisa melihat di rumah sakit itu usia 20 tahun itu sudah banyak yang melakukan cuci darah,” kata Savitri.
Savitri mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian. Sebab, warga yang mengalami gagal ginjal dan membutuhkan cuci darah akan mengakses layanan kesehatan tersebut dalam jangka panjang.
“Pada saat kasus gagal ginjal ini, maka akan ada akses layanan yang akan dimanfaatkan oleh warga itu seumur hidup melalui cuci darah,” ujarnya.
Dia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Jakarta. Menurutnya, bertambahnya usia harapan hidup harus dibarengi dengan kondisi kesehatan yang baik.
“Kita berharap juga berarti harus ada bukan hanya angka usianya yang tinggi, tetapi juga kesehatannya juga mengikutinya. Sehingga ini tidak menjadi bom waktu terhadap anggaran beban negara,” tuturnya.
Selain soal cuci darah, Savitri mengingatkan warga agar tidak sembarangan membeli dan mengonsumsi obat. Dia menyoroti kebiasaan masyarakat melakukan pengobatan sendiri ketika mengalami keluhan kesehatan ringan.
“Pusing sedikit tinggal beli obat di warung asal meredakan, dan diare sedikit ibunya langsung beli obat sendiri, mengobati sendiri tanpa harus datang ke faskes,” jelasnya.
Padahal, kata Savitri, fasilitas kesehatan di Jakarta cukup banyak. Dinkes DKI mencatat ada 192 rumah sakit, 44 puskesmas kecamatan, dan 292 puskesmas pembantu.
Savitri mendorong apoteker dan kader yang dikukuhkan sebagai Agent of Change untuk ikut mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan obat.
“Saya berharap nanti Bapak, Ibu, terutama dari Ibu-Ibu kader untuk Agent of Change-nya ini dapat menyampaikan informasi bahwa jangan mengakses atau membeli obat sembarangan,” katanya.

