Harga BBM Pertamax Naik, Kelas Menengah dan Ojol Disebut Hadapi Beban Baru

Intime – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax per 10 Juni 2026 dinilai bakal memberi tekanan baru bagi masyarakat kelas menengah. Akademisi Ilmu Ekonomi Pembangunan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Hady Sutjipto, menyebut kelompok tersebut menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

“Yang saya khawatirkan adalah kelompok menengah,” kata Hady di Jakarta, Kamis (11/6).

Menurut Hady, masyarakat berpenghasilan rendah masih mendapat berbagai program perlindungan dari pemerintah seperti bantuan sosial dan rumah subsidi. Sementara kelompok menengah harus menghadapi kenaikan biaya hidup tanpa dukungan serupa.

Ia menjelaskan, berdasarkan klasifikasi Bank Dunia dan BPS, masyarakat kelas menengah memiliki pengeluaran sekitar Rp 2 juta hingga Rp10 juta per kapita per bulan. Sedangkan kelompok menuju kelas menengah berada pada rentang Rp840 ribu hingga Rp 2,08 juta per kapita per bulan.

“Yang miskin itu kurang dari Rp 840 ribu per kapita per bulan,” ujarnya.

Hady juga mengingatkan adanya tren penurunan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia. Berdasarkan data BPS, jumlah kelas menengah pada 2025 berkurang sekitar 1,2 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurutnya, kelompok ini berada dalam posisi yang sulit karena tidak tergolong miskin sehingga tidak memperoleh bantuan pemerintah, namun juga belum memiliki kemampuan ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat.

“Kelompok ini tidak bisa dibilang kaya, tetapi juga tidak mendapat bantuan pemerintah. Banyak di antaranya ASN, guru, maupun pegawai swasta,” tuturnya.

Ia menilai kenaikan harga Pertamax dapat memperbesar tekanan terhadap kelompok menengah yang sebagian besar mengandalkan pendapatan bulanan dengan tingkat kepastian yang terbatas.

Selain itu, Hady menyoroti dampak kebijakan tersebut terhadap pengemudi ojek online. Menurutnya, banyak pengemudi menggunakan Pertamax bukan karena ingin tampil lebih mampu, melainkan untuk menjaga kondisi mesin kendaraan yang menjadi sumber penghasilan mereka.

“Banyak ojol menggunakan Pertamax karena ingin menjaga mesin tetap lebih bersih dan awet. Jadi bukan karena mereka merasa mampu,” katanya.

Hady berharap pemerintah memperhatikan dampak lanjutan kenaikan harga BBM terhadap daya beli masyarakat agar tekanan ekonomi terhadap kelas menengah tidak semakin berat.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini